Tampilkan postingan dengan label Journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Journey. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Agustus 2016




Dalam ekspedisi Tajsem 2016, seorang summiter mendapatkan dua tugas sekaligus yaitu misi melakukan pendakian hingga mencapai puncak triarga dan misi melakukan penelitian yang meliputi aspek abiotik, biotik, dan cultural. Dari pengamatan aspek abiotik yang kami lakukan di Gunung Ciremai kami mendapatkan data yang cukup menarik seputar edelweiss di bawah Puncak Ciremai, tepatnya di Pos Goa Walet yang merupakan pos terakhir sebelum puncak dari rute pendakian melalui Jalur Palutungan maupun Jalur Apuy. Informasi mengenai edelweis selalu menarik. Mengapa demikian? Karena edelweis merupakan salah satu ikon dari pendakian gunung tinggi, dimana seorang pendaki yang telah berjuang keras mendaki ke atas biasanya akan mendapatkan “bonus” pemandangan padang edelweis yang indah.





"Catatan tambahan, keindahan edelweis tidak dijumpai di bawah tegakan hutan ketika seorang pendaki masih berada di awal perjalanan".

Edelweiss merupakan tanaman perintis yang banyak dijumpai pada kerucut gunungapi. Vegetasi ini dapat hidup pada endapan lava, piroklastik, abu, lahar, dan laut pasir, di sekitar wilayah puncak. Menurut Van Steenis (2010) dalam bukunya “Flora Pegunungan Jawa”, terdapat beberapa jenis anaphalis antara lain Anaphalis javanica, Anaphalis viscida, Anaphalis longifolia, dan Anaphalis maxima. Anaphalis javanica merupakan tumbuhan pionir berumur panjang pada endapan abu vulkanik, tanah kawah. Ciri-cirinya adalah perdu berbulu putih, bercabang lebat, sering bengkok-bengkok, tinggi hingga empat meter, batang sebesar pergelangan tangan, ranting-ranting berdaun kering putih kelabu, pada ujung atasnya terdapat daun yang mengumpul dan bonggol-bonggol bunga putih melimpah. Seringkali tumbuh mengelompok pada lahan tidak subur, lereng berpasir atau berbatu, terutama di kawah, dan tidak terlalu membutuhkan tanah.

Anaphalis viscida mirip dengan Anaphalis javanica, tetapi daunnya hijau tanpa lapisan putih, lengket karena berbulu kelenjar, dan bonggol bunga lebih besar. Anaphalis longifolia, tegak bercabang kadang-kadang pangkalnya agak berkayu, tinggi hingga 1,5 meter. Batang dan permukaan bawah daun putih, jarang kekuningan, bunga atas hijau bila masih segar. Anaphalis maxima dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 3 meter, lebat, bercabang banyak, berkayu di pangkalnya berbulu keputih-putihan tetapi hijaunya daun terlihat. Jenis ini hanya dijumpai di beberapa gunung.
Mengacu pada keterangan Van Steenis, kami menjumpai Anaphalis javanica dan Anaphalis viscida di sekitar Pos Gua Walet. Sekilas memang agak sulit dibedakan karena kedua jenis edelweiss ini sangat mirip, hanya dibedakan oleh keberadaan lapisan putih yang menyelimuti daun. 

Gua Walet sendiri di beberapa sumber disebutkan sebagai bekas titik erupsi. Wilayah Gua Walet memiliki ketinggian sekitar 2900 mdpal, berjarak sekitar 30 menit perjalanan mendaki dari Puncak Ciremai. Dengan material penyusun berupa bebatuan hasil erupsi dengan sangat sedikit tanah, ditambah dengan pengaruh kadar keasaman kawah, praktis hanya jenis vegetasi perintis yang dapat pertahan hidup di wilayah ini. 

Jenis Anaphalis cukup banyak dijumpai selain cantigi (Vaccinium varingiaefolium). Umumnya edelweiss tumbuh bergerombol, beberapa diantaranya tumbuh tinggi hingga mencapai lebih dari 2 meter dan berbatang keras sebesar pergelangan tangan.

Bunga-bunga edelweiss yang telah mekar sempurna berwarna putih kekuningan berpadu dengan bunga cantigi dan daunnya yang berwarna kemerahan. Sesekali kabut datang kemudian tersingkap kembali menghadirkan panorama langit biru di pagi hari, ditambah dengan pemandangan hutan hujan tropis dan kawasan perkotaan di area bawah menambah suasana yang indah, nyaman, dan tenang di Gua Walet. Bagaimana, anda tertarik mengunjunginya?

ANAPHALIS JAVANICA DAN ANAPHALIS VISCIDA, PENJAGA KEHENINGAN GOA WALET CIREMAI

Read More

Selasa, 02 Agustus 2016




Pengibaran bendera TAJSEM 2016 oleh empat orang summiter di Puncak Gunung Ciremai pada pagi hari tanggal 17 Juli 2016 menjadi tanda tercapainya target kedua dari rangkaian puncak dalam ekspedisi triarga. Tidak terasa ekspedisi ini telah melewati separuh perjalanan.


Telah banyak informasi yang berhasil dihimpun dalam konteks scientific expedition, dalam hal ini mengenai Gunung Slamet dan Gunung Ciremai, baik kondisi fisik bentanglahannya maupun sosial budaya masyarakatnya.
Dalam perjalanan mendaki menuju puncak di Gunung Slamet dan Ciremai, tim melewati berbagai bentuklahan mulai dari dataran kaki vulkan, kaki vulkan, lereng vulkan, kerucut vulkan, dan kepundan. Kedua gunung bertetangga ini kebetulan memiliki morfologi yang relatif sama sebagai vulkan komposit dengan kerucut sempurna, serta bibir kawah sebagai puncak pendakiannya. Dengan karakteristik iklim yang juga relatif sama, kedua gunung ini memiliki kemiripan dalam hal distribusi vegetasinya yaitu didominasi oleh hutan hujan tropis yang lebat dengan batang pohon besar berlumut, kanopi tinggi, kerapatan vegetasi tinggi, hingga mencapai ketinggian 2500 mdpal. Hutan elfin berkembang setempat-setempat di atas elevasi itu, pada lereng yang semakin terjal tersusun dari endapan lava dan tefra jatuhan pada kerucut gunungapi tepat di bawah kepundan.
Hutan elfin, sebagaimana dijelaskan oleh Van Steenis (2010) adalah formasi hutan primer di atas elevasi 2000 mdpal. Struktunya dicirikan oleh sebuah kanopi rendah yang terdiri atas pohon-pohon yang tumbuh rapat dengan batang yang sering bengkok. Daun-daunnya kecil dan tebal, merupakan hutan campuran dengan tinggi 8-20 meter. Dalam kondisi tidak terganggu tipe hutan elfin akan menyelimuti pegunungan mulai dari 2000 mdpal hingga ke puncaknya jika vulkanisme atau kebakaran tidak mengganggunya. Pohon-pohon di hutan pegunungan tinggi selalu berlumut. Pertumbuhan lumut sebanyak ini jarang terjadi dalam hutan tinggi tetapi kebanyakan dijumpai dalam hutan elfin sehingga sering disebut juga hutan lumut. Secara fisiognomi kesannya menakutkan, dan kelangkaan bunyi-bunyian selain bunyi burung yang tidak terlalu sering terdengar menambah kesan seramnya.
Di Gunung Slamet dan Gunung Ciremai, hutan elfin dijumpai hingga bentuklahan kerucut vulkan yang berbatasan dengan lereng vulkan. Hutan elfin tidak berkembang dengan baik pada kepundan, bahkan di Gunung Slamet sebagian kerucut vulkan tidak bervegetasi karena pengaruh vulkanisme aktif. Salah satu wilayah hutan elfin di Gunung Slamet adalah pos Samyang Jampang dengan dominasi vegetasi cantigi, adapun di Gunung Ciremai hutan elfin pada kerucut vulkan berkembang di wilayah pos Sanghyang Ropoh di luar perbatasan hutan tinggi kawasan Pasanggrahan.

Hutan elfin pada bentuklahan kerucut vulkan di Gunung Slamet dan Ciremai tidak berkembang baik, seperti misalnya dibandingkan dengan Gunung Pangrango yang memiliki hutan elfin hingga puncak berketinggian 3000 mdpal. Hutan elfin hanya berkembang setempat-setempat. Hal ini tidak terlepas dari karakteristik Gunung Slamet dan Ciremai sebagai vulkan aktif. Aktivitas vulkanik yang masih terus berlangsung berpengaruh terhadap terhambatnya perkembangan hutan elfin.
Kemiringan lereng terjal juga menyebabkan tingkat erosi tinggi. banyaknya erosi mengurangi kandungan unsur hara dalam tanah. Akibatnya tanah menjadi miskin sehingga tidak dapat mendukung perkembangan hutan elfin dengan baik. Mengenai hal ini Van Steenis (2010) juga mengungkapkan dalam bukunya. Dibandingkan dengan Gunung Slamet, distribusi hutan elfin yang terdapat di Gunung Ciremai lebih luas hingga mencapai kepundan, walaupun hanya sebagai vegetasi berukuran kerdil. Hal ini disebabkan oleh aktivitas vulkanik di Gunung Slamet yang lebih intensif dan berlangsung hingga saat ini.

ELFIN KERUCUT VULKAN DI SAMYANG JAMPANG DAN SANGHYANG ROPOH

Read More

Sabtu, 30 Juli 2016

TOPONIMI POS PENDAKIAN GUNUNG SLAMET JALUR BAMBANGAN. SAMARANTU, BUKAN SEKEDAR SAMAR-HANTU
(catatan summiter dari lapangan)

 
Pemandangan dari Base Camp Dusun Bambangan menjelang matahari terbit

Kami sangat bersyukur bahwa pada tahun 2016 ini MPA Mahameru akhirnya benar-benar sukses merealisasikan program scientific expedition melalui TAJSEM 2016. Merupakan suatu kebanggaan dapat terlibat dalam project ini sebagai summiter. Banyak sekali pelajaran yang kami peroleh melalui scientific expedition. Kami dapat menggali banyak informasi mengenai kondisi fisik gunung yang kami datangi serta melakukan wawancara dengan masyarakat setempat untuk menghimpun informasi-informasi berharga seputar gunung dan pendakiannya. Walaupun disisi lain program ini membawa konsekuensi pada jadwal ekspedisi yang menjadi lebih panjang, namun secara umum cukup menyenangkan bagi kami untuk menggali banyak informasi bersamaan dengan kegiatan pendakian. Kami sadar, tidak semua orang memperoleh kesempatan yang sama dengan kami.
Pada saat melakukan pendakian Gunung Slamet pada tanggal 13-17 Mei 2016, kami melakukan wawancara dengan masyarakat dan memperoleh keterangan menarik tentang toponimi pos-pos pendakian di Gunung Slamet. Berikut adalah informasi yang ingin kami bagi dengan pembaca sekalian.


Sebagaimana telah kita ketahui, ekspedisi Triarga Jawadwipa adalah suatu rangkaian ekspedisi di tiga puncak Pulau Jawa yang mewakili tiga wilayah geomorfologi, yaitu Puncak Ciremai (3078 mdpl) sebagai puncak tertinggi Jawa Barat, Puncak Slamet (3428 mdpl) di Jawa Tengah, dan Puncak Semeru (3676 mdpl) di Jawa Timur. 
Baca Grand Design Ekspedisi TAJSEM 2016 :        Konsep,              Target,               Metode



Dalam ekspedisi ini para summiter dengan dukungan supporting team lapangan bertugas untuk melakukan survei aspek fisik berupa biogeomorfologi, serta menemukenali berbagai kearifan lokal pada masyarakat setempat khususnya dalam pengelolaan lingkungan. Selain itu karena daerah observasi merupakan daerah vulkan yang aktif maka aspek kebencanaan juga dimasukkan sebagai aspek yang harus diamati oleh summiter di lapangan. Bahkan hingga saat ini, tim summiter masih melaksanakan penelitian mengenai modal sosial dalam menghadapi bencana erupsi Gunung Slamet. Apabila penelitian tersebut telah selesai, artikel yang memuat hasil penelitian tersebut akan segera dipublikasikan.
Gunung Slamet merupakan target pertama dalam rangkaian ekspedisi triarga ini. Pendakian ke puncak Gunung Slamet dilakukan melalui Jalur Bambangan, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya, tim yang bertugas pada aspek cultural melakukan observasi dan wawancara di sekitar basecamp Dusun Bambangan sebelum dan sesudah pendakian. Dalam proses wawancara, tim berhasil memperoleh temuan menarik kaitannya dengan tema ekspedisi, yaitu tentang toponimi (asal-usul pemberian nama) pos-pos pendakian yang ada di Jalur Bambangan. Temuan-temuan tersebut didapatkan tim dari beberapa narasumber key person yang merupakan sesepuh desa dan salah seorang juru kunci Gunung Slamet.
Jalur Pendakian Bambangan memiliki 9 pos yang mempunyai nama-nama tersendiri seperti pada umumnya pos-pos pendakian lainnya. Secara berurutan pos-pos tersebut adalah Pos Pondok Gembirung, Pos Pondok Walang, Pos Pondok Cemara, Pos Samarantu, Pos Samyang Rangkah, Pos Samyang Jampang, Pos Samyang Kendit, dan Pos Plawangan.
Berdasarkan hasil wawancara tim dengan narasumber, diketahui bahwa nama-nama pos tersebut diambil dari nama tumbuhan yang mendominasi wilayah sekitar pos dan sepanjang jalur pendakian menuju pos tersebut. Pos pendakian terbawah adalah pos Gembirung dan Pos Walang. Daerah tersebut memiliki ketinggian wilayah sekitar 1935 mdpl dengan banyak pohon-pohon pendek dan padang rumput di kanan dan kiri jalur pendakian. Menurut bahasa lokal setempat, daerah dengan karakteristik vegetasi demikian merupakan gembirung dan walang, yang dapat diterjemahkan sebagai ilalang atau belalang dalam bahasa jawa. Selanjutnya adalah pos Pondok Cemara yang dikaitkan dengan jenis pohon cemara atau pinus.
Mendaki ke atas dari Pos Pondok Cemara selanjutnya pendaki akan tiba di Pos Samarantu. Berdasarkan hasil wawancara, asal mula nama samarantu berasal dari nama tumbuhan samarantu, yang menurut masyarakat lokal Dusun Bambangan adalah nama lain dari pohon dengan ciri bentuk pohonnya pendek dan memiliki batang kecil. Dalam observasi lapangan di sekitar Pos Samarantu, kami menjumpai pohon dengan ciri-ciri seperti yang disampaikan oleh narasumber, yaitu bentuk pohon rendah dan berbatang kecil hingga sedang seperti ditunjukkan pada gambar berikut ini.

Keluar dari wilayah hutan mendekati wilayah puncak, terdapat Pos Samyang Jampang. Nama Jampang menurut penjelasan ciri-cirinya diduga kuat merupakan nama lain dari Pohon Cantigi (Vaccinium varingiaefolium). Tanaman pionir ini (baca : tumbuhan pionir di kepundan gunung ciremai) dapat di temui di seluruh pulau Jawa pada ketinggian antara 1500-3300 mdpl (Backer & Bakhuizen van den Brink, 1965), memiliki daun yang tebal dan kecil-kecil, dengan warna hijau, merah dan ungu, serta batangnya merah kecokelatan. Buahnya berwarna hitam dan berbentuk bulat seperti beri. Pohonnya tumbuh berupa pohon kecil atau semak bercabang-cabang dengan satu batang. Bunganya seperti bunga anggrek berwarna meran dan ukuran bunga cantigi yang ada di pegunungan lebih besar dibandingkan bunga cantigi yang ada di pantai. Pada pos Samyang Jampang mulai banyak ditemukan vegetasi cantigi.
Diantara nama-nama pos yang terdapat pada Jalur Pendakian Bambangan, Pos Samarantu termasuk yang paling terkenal di kalangan pendaki. Hal ini tidak lepas dari banyaknya keterangan yang mengkaitkan nama samarantu dengan kata “Samar” dan “Antu/Hantu” atau “Samar-samar Berhantu”. Ada pula yang menyebut “hantu yang samar-samar”. Keterangan ini cukup populer di kalangan pendaki apalagi Gunung Slamet termasuk gunung yang banyak dikaitkan dengan berbagai cerita mistis. Keterangan ini sangat mungkin berkaitan dengan berkembangnya isu mistis, selain itu dapat pula anggapan mengenai samar-hantu yang diberikan para pendaki tersebut dikarenakan pada pos ini banyak pendaki mengalami hypothermia dan penyakit ketinggian (AMS), demikian menurut keterangan tim SAR yang bertugas di Pos Pendakian Bambangan.
Tim TAJSEM saat memperoleh keterangan dari anggota SAR Purbalingga yang bertugas di base camp bambangan
Berdasarkan pengamatan aspek fisik yang dilakukan oleh tim di lapangan, pohon-pohon pada pos samarantu memiliki kanopi yang mulai terbuka, tidak seperti pada  pos-pos sebelumnya yang memiliki kanopi tertutup dan rapat dengan pepohonan yang besar. Kemudian lokasi pos tersebut terletak pada posisi igir pegunungan, sehingga angin yang bertiup pada pos tersebut khususnya pada malam hari langsung mengenai tempat-tempat mendirikan tenda tanpa terhalang oleh kanopi dan pepohonan besar. Diduga inilah alasan mengapa pada pos tersebut sering terdapat pendaki yang mengalami kecelakaan dalam pendakian baik mengalami hypothermia, AMS, dan lainnya.
Informasi mengenai nama-nama vegetasi yang digunakan sebagai nama pos di Jalur Pendakian Bambangan ini cukup menarik, apalagi tim ekspedisi TAJSEM juga bertugas mengamati kondisi vegetasi. Dalam konsep yang telah kami pelajari persebaran jenis tumbuhan tertentu sangat ditentukan oleh iklim (suhu dan curah hujan) yang berkaitan dengan ketinggian suatu daerah, bahan induk tanah, serta tingkat perkembangan tanah. Berdasarkan konsep tersebut, perbedaan ketinggian akan mempengaruhi variasi vegetasi baik jenis maupun ukurannya dengan gejala semakin ke atas vegetasi yang dijumpai semakin kecil.




TOPONIMI POS PENDAKIAN GUNUNG SLAMET JALUR BAMBANGAN. SAMARANTU, BUKAN SEKEDAR SAMAR-HANTU (catatan summiter dari lapangan)

Read More

Selasa, 26 Juli 2016



Dalam misi mencapai puncak ke dua dari rangkaian pendakian Triarga Jawadwipa di Gunung Ciremai, tim Ekspedisi Tajsem 2016 juga mendapatkan tugas untuk melakukan pengamatan mengenai kondisi biogeomorfologi di Gunung Ciremai. Pokok pengamatan biogeomorfologi adalah melihat bagaimana bentuklahan mempengaruhi perkembangan dan distribusi vegetasi dan juga sebaliknya vegetasi mempengaruhi bentuklahan, dalam hal ini khususnya pada bentanglahan vulkanik. Secara garis besar diperoleh hasil bahwa setiap bentuklahan (landform) di Gunung Ciremai dengan material penyusun yang bervariasi, kondisi iklim yang bervariasi oleh pengaruh ketinggian tempat, terkena pengaruh langsung atau tidak dari aktivitas vulkanik pada saat ini, ternyata memiliki karakteristik vegetasi yang berbeda pula. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pola distribusi vegetasi berkaitan dengan karakteristik bentuklahan tempat berkembangnya jenis vegetasi tersebut.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, terdapat kondisi biogeomorfologi yang unik di pada bentuklahan kepundan gunungapi (bibir kawah yang juga merupakan puncak dari pendakian Gunung Ciremai), yaitu terdapatnya beberapa jenis tumbuhan perintis antara lain cantigi gunung (Vaccinium varingiaefolium) dan edelweiss (Anaphalis javanica). Van Steenis (2010) dalam bukunya Flora Pegunungan Jawa, menjelaskan bahwa terdapat jenis tumbuhan tertentu yang dapat bertahan hidup dalam lingkungan vulkan aktif, dalam hal ini di sekitar kawah dan endapan lava di puncak vulkan. Pada sekitar kepundan yang memiliki keasaman tinggi, penciuman manusia sangat peka terhadap gas belerang hingga jarak 1 km, namun demikian kondisi ini masih cukup lemah untuk merusak vegetasi, sehingga vegetasi masih dapat hidup. Terdapat jenis tumbuhan pionir yang sangat kerdil dan tumbuh merunduk, khususnya pada lokasi-lokasi yang terlindung dari angin dan gas beracun.
Lebih lanjut menurut Van Steenis, di sekitar kepundan umumya dijumpai vegetasi Vaccinium varingiaefolium, Rhododendrom retusum, dan paku Selliguea feei, kadang-kadang disertai lumut. Apabila kawah tidak aktif lagi maka vegetasi pionir akan menyelinap masuk yang kemudian dapat berkembang menjadi hutan elfin cantigi, sementara itu pada kawah aktif semburan gas dapat memusnahkan vegetasi yang baru terbentuk. Vegetasi yang dijumpai adalah yang mampu bertoleransi dengan kondisi tersebut. Hanya beberapa spesies yang mampu bertahan dan semakin ke arah kawah vegetasi semakin sedikit, semakin kurus, dan semakin kecil.

kenampakan puncak Gunung Ciremai dan vegetasi-vegetasi pioner yang tumbuh
kenampakan kawah Gunung Ciremai

Vegetasi yang tumbuh di sekitar kawah Gunung Ciremai

TUMBUHAN PIONIR DI KEPUNDAN GUNUNG CIREMAI

Read More

Rabu, 20 Juli 2016


Ada yang menarik dari pendakian puncak kedua triarga di Gunung Ciremai oleh tim TAJSEM 2016 MPA Mahameru tanggal 14-18 Juli kemarin, yaitu jumlah anggota tim ekspedisi yang membengkak hingga mencapai 25 orang. Banyaknya anggota membuat tim pendaki harus dibagi lagi dalam kelompok-kelompok kecil. Sebenarnya anggota tim TAJSEM relatif tidak berubah yaitu terdisi dari lima orang summiter dan dua orang supporting team lapangan. Anggota lainnya adalah senior MPA Mahameru yang turut memberikan dukungan langsung dengan mengikuti pendakian di lapangan beserta tim sispala dari sekolah yang selama ini menjalin kerjasama dengan MPA Mahameru. Semuanya (guyub rukun, click) turun ke lapangan bersama-sama untuk memberikan dukungan dan penghormatan bagi MPA Mahameru yang sedang melaksanakan ekspedisi TAJSEM 2016.
PA Raksa Buana dari SMA Negeri 1 Cimaragas Kabupaten Ciamis Jawa Barat memberangkatkan rombongan yang cukup besar dengan komposisi tim terdiri dari beberapa guru pembina, siswa, dan alumni. Dengan jarak domisili yang relatif dekat dari Gunung Ciremai, PA Raksa Buana dalam kegiatan ini berperan sebagai tuan rumah yang menjamu Tim TAJSEM 2016 dan peserta lainnya. PA Raksa Buana sudah sangat lama menjalin kerjasama dengan MPA Mahameru. Sejarah berdirinya juga tidak dapat dilepaskan dari MPA Mahameru karena salah satu perintisnya adalah ketua pertama MPA Mahameru. Beberapa bentuk kerjasama yang pernah dilakukan antara lain Diklatsar Anggota Baru, Pelatihan Mitigasi Bencana, serta Ekspedisi Priangan Timur pada Bulan November tahun 2012.
Selain PA Raksa Buana dalam kesempatan ini juga hadir Sispala Prima SMA Negeri 1 Belitang Kabuaten OKU Timur, Provinsi Sumatera Selatan yang memberangkatkan perwakilan siswa didampingi oleh guru pembina. Berdirinya Sispala Prima juga tidak terlepas dari MPA Mahameru karena dirintis oleh alumni yang mengabdi disana. Hingga saat ini Sispala Prima telah beberapa kali melaksanakan pendakian bersama dengan MPA Mahameru antara lain dua kali pendakian di Gunung Merbabu, Gunung Dempo, dan tentu saja di Gunung Ciremai ini. Selain itu MPA Mahameru juga pernah mendapat undangan untuk mendukung langsung pelaksanaan Diklatsar Anggota Baru di Sumatera Selatan.

Ibarat reuni keluarga besar, Ekspedisi TAJSEM di Gunung Ciremai ini kian semarak dengan banyaknya elemen yang bersatu padu dalam satu perjalanan menuju Puncak Ciremai. Melalui kegiatan bersama ini juga diharapkan akan dirintis kembali kerjasama yang berkelanjutan pada masa mendatang.











MPA MAHAMERU MENDAKI SATU DARI TIGA PUNCAK TRIARGA BERSAMA PA RAKSA BUANA DAN SISPALA PRIMA

Read More

Selasa, 19 Juli 2016



Hari minggu 17 Juli 2016 tepat pukul 07.00 WIB Tim MPA Mahameru yang tergabung dalam Ekspedisi TAJSEM 2016 berhasil mengibarkan bendera di Puncak Gunung Ciremai Jawa Barat. Keberhasilan ini menandai terselesaikannya target kedua dari rangkaian pendakian triarga setelah sebelumnya tim berhasil mencapai Puncak Gunung Slamet Jawa Tengah pada tanggal 16 Mei 2016 (baca di sini). Keberhasilan ini kian terasa istimewa karena diraih sepuluh hari pasca perayaan ulang tahun MPA Mahameru ke 11. Ke depan tim akan menyelesaikan target terakhir di Puncak Semeru, Jawa Timur.
Empat orang summiter berhasil menyelesaikan misi di Gunung Ciremai, mereka adalah Maulana Azkaa, Aprilia Purwaningsih, Latifah Diah, dan Dheni Rizqiyanto, dengan dukungan penuh dari dua orang anggota suporting team lapangan yaitu Dimas Aditya dan Anwar Suyudi. Ekspedisi di Gunung Ciremai ini semakin semarak dengan bergabungnya beberapa anggota senior MPA Mahameru untuk memberikan dukungan langsung di lapangan. Mereka datang dari Yogyakarta, Banjar Jawa Barat, Batang Jawa Tengah, Lombok Timur NTB, dan OKU Timur Sumatera Selatan. Sebagian anggota senior juga membawa serta sispala yang menjalin kerjasama dengan MPA Mahameru.
Upaya untuk meraih Puncak Ciremai diawali dari pemberangkatan gelombang pertama tim ekspedisi dari Yogyakarta pada tanggal 14 Juli 2016 yang bertugas untuk mengurus perijinan penelitian di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Gelombang kedua menyusul satu hari kemudian dengan mengangkut logistik pendakian. Selanjutnya seluruh anggota tim bersama-sama memulai pendakian pada tanggal 16 Juli 2016 pukul 09.30 WIB. Walaupun sempat terkendala oleh cuaca yang sering berubah, pada akhirnya tim berhasil summit tanggal 17 Juli 2016 pukul 07.00 WIB.

Selama kegiatan ekspedisi ini banyak sekali yang telah diperoleh tim dari lapangan antara lain data pengukuran geomorfologis dan meteorologis lereng tenggara Gunung Ciremai, kondisi flora-fauna, serta sosial budaya masyarakat setempat khususnya di Dusun Palutungan yang sekaligus sebagai base camp dari pendakian ini. “Hasil ekspedisi kedua TAJSEM kali ini benar-benar menemukan suatu pembuktian tentang peran perbedaan iklim terhadap pembentukan karakter suatu gunung, saat ini memang terlihat perbedaan antara karakter di Gunung Slamet di Jawa Tengah dan Gunung Ciremai di Provinsi Jawa Barat berdasarkan pengaruh iklim.Iklim tersebutlah yang ikut berperan aktif dalam proses geomorfologi gunung-gunung tersebut. Namun selain perbedaan iklim, faktor budaya asli daerah yang berbeda juga menjadi faktor utama di aspek sosial. Perbedaan lingkungan fisik atau karakter gunung akan mempengaruhi perilaku, kepercayaan, dan kearifan lokal masyarakatnya. Itulah yang selama ini dari tim TAJSEM percaya bahwa eksedisi ini bisa mewaikili tiga budaya dari beberapa suku di Pulau Jawa yaitu Jawa, Sunda, dan Tengger. Selain pada sektor ilmiah ekspedisi kedua ini begitu berkesan karena hadirnya para senior dan sispala-sispala mitra Mpa Mahameru yang tentunya bisa menguatkan inernal dan menambah kualitas hasil di lapangan”. Ucap Maulana Azkaa, ketua tim Summiter.

KIBARKAN BENDERA DI PUNCAK CIREMAI, TIM TAJSEM 2016 SELESAIKAN TARGET KEDUA DARI RANGKAIAN EKSPEDISI TRIARGA

Read More

Rabu, 29 Juni 2016


Lima orang summiter bersama dua orang dari supporting team yang tergabung dalam tim ekspedisi TAJSEM 2016 telah berhasil menyelesaikan target pertama eksplorasi di Gunung Slamet, Jawa Tengah, pada tanggal 13-17 Mei 2016. Para summiter yang terdiri dari Maulana Azkaa, Dheni Rizqiyanto, Latifah Diah, Aprilia Purwaningsih, dan Muhammad Hagi bersama supporting team lapangan Dimas Aditya dan Irwanti berhasil mencapai Puncak Gunung Slamet (3428 mdpal) pada hari senin, 16 Mei 2016, tepat pukul 07.30 WIB.
Pendakian ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian kegiatan eksplorasi bentanglahan pada tiga gunung di Pulau Jawa yaitu Gunung Ciremai sebagai gunung tertinggi di wilayah geomorfologi Jawa bagian barat, Gunung Slamet sebagai gunung tertinggi Jawa bagian tengah, dan Gunung Semeru sebagai gunung tertinggi Jawa bagian timur. Target kegiatan ini telah tercapai dengan baik sesuai dengan rencana yang dipresentasikan pada Launching TAJSEM 2016.
Kegiatan ekspedisi yang berlangsung selama empat hari telah dimulai sejak hari Jumat, 13 Mei 2016. Begitu tiba di base camp Bambangan, Purbalingga, tim ekspedisi mulai aktif melakukan observasi sosial budaya masyarakat sekitar. Selanjutnya pada tanggal 14 Mei tim mulai melakukan pendakian untuk mendapatkan data fisik yang berupa kondisi geomorfologis dan biogeografis dan diakhiri dengan mencapai puncak pada hari ketiga pendakian. “Alhamdulillah, ekspedisi ini dapat berjalan dengan lancar dan mendapatkan hasil sesuai target. Berbagai data penting juga diperoleh khususnya berkaitan dengan kondisi sosial budaya. Tim juga mendapat informasi mengenai toponimi nama-nama pos di Gunung Slamet, yang sebenarnya berkaitan dengan kondisi biogeografis di gunung itu. Mudah-mudahan kami dapat segera berbagi informasi ini dengan publik setelah selesainya ekspedisi ini. Satu lagi, penerimaan masyarakat yang sangat ramah dan senang dengan kegiatan kami, menjadi hal yang tak terlupakan dari masyarakat kaki Gunung Slamet”, kata Maulana Azkaa yang bertindak sebagai kapten tim.

Selasa 17 Mei 2016 tim ekspedisi tiba di Yogyakarta dengan selamat dan sukses membawa data-data observasi lapangan Gunung Slamet, yang akan dibawa dalam forum Supporting Team pada Aspek Scientific. Pencapaian ini sekaligus juga dipersembahkan kepada almamater Universitas Negeri Yogyakarta yang merayakan dies natalis pada bulan Mei ini. “Kebetulan fakultas kita kan menjadi host dalam rangkaian acara dies natalis UNY, jadi kita berinisiatif menjadikan kegiatan scientific expedition ini sebagai persembahan kepada almamater, juga untuk memenuhi panggilan jiwa sukma tri dharma seperti yang biasa dinyanyikan dalam bait lagu hymne MPA Mahameru”, kata Azkaa kembali menjelaskan. Target pertama yang telah dicapai dengan baik memberikan motivasi tambahan kepada tim dalam mempersiapkan pencapaian target kedua di Gunung Ciremai, Jawa Barat yang direncanakan akan dilaksanakan pada Bulan Juli 2016.

TIM TAJSEM SELESAIKAN TARGET PERTAMA DI GUNUNG SLAMET JAWA TENGAH

Read More

Senin, 20 Juni 2016

TAJSEM 2016 diresmikan langsung oleh Prof. Dr. Ajat  Sudrajat, M.Ag, Dekan Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta
Dewasa ini kegiatan kepecintaalaman di Indonesia semakin banyak diminati oleh masyarakat. Dengan dukungan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin baik, kegiatan kepecintaalaman tidak hanya terbatas pada aktivitas penjelajahan saja, tetapi juga memberikan informasi yang lebih luas yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Berbagai bentuk informasi berbasis penjelajahan diantaranya catatan perjalanan, informasi mengenai daerah yang dijelajahi, serba-serbi tentang pelaksanaan penjelajahan, hingga berbagai analisis mengenai fenomena yang dijumpai di lapangan. Dilatarbelakangi oleh kondisi tersebut, komunitas mahasiswa pecinta alam (MPA) Mahameru Fakultas Ilmu Sosial UNY mengembangkan kegiatan ekspedisi berbasis akademik melalui program Triarga Jawadwipa Scientific Eexpedition MPA Mahameru FIS UNY (TAJSEM 2016).
TAJSEM merupakan salah satu program kerja MPA Mahameru pada divisi Gunung Hutan (GH) bekerjasama dengan divisi akademik. Kegiatan ini bertajuk “Survei Biogeomorfologi dan Kearifan Lokal Masyarakat Setempat dalam Menjaga Lingkungan”, dengan target eksplorasi tiga puncak di tiga wilayah geomorfologi Pulau Jawa yaitu Gunung Ciremai (Jawa Barat), Gunung Slamet (Jawa Tengah) dan Gunung Semeru (Jawa Timur). Eksplorasi yang dilakukan mencakup aspek biogeomorfologi di ketiga gunung tersebut, atau disebut aspek A dan B (abiotik dan biotik), serta aspek kearifan lokal sebagai bentuk budaya masyarakat, atau disebut aspek C (cultural). Sub penelitian abiotik meliputi kondisi geomorfologis, Sub penelitian biotik berkaitan dengan flora-fauna, dan sub penelitian kultural meliputi unsur budaya di daerah ekspedisi.
Pada hari Selasa 3 Mei 2016 Pukul 08.00-10.30 dilaksanakan kegiatan lauching kegiatan TAJSEM 2016 dan pembukaan rangkaian kegiatan ini oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial UNY, Bapak Prof. Dr. Ajat Sudrajat, M.Ag. Kegiatan launching ini juga dibersamai oleh Wakil Dekan III FIS UNY Bapak Muhammad Nur Rokhman, M.Pd. Selain sebagai momentum pembukaan secara resmi dari serangkaian acara ekspedisi yang akan dilaksanakan kedepannya, launching ini juga bertujuan untuk memperkenalkan kegiatan ekspedisi TAJSEM 2016 kepada civitas akademika FIS UNY, sehingga pada kesempatan ini pada summiter yang akan bertugas sebagai pelaksana kegiatan melakukan presentasi untuk memaparkan bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan, sekaligus mengharapkan masukan dari peserta. Apresiasi diberikan oleh bapak Wakil Dekan III FIS UNY yang menyampaikan bahwa “kegiatan ini memiliki prospek baik, sebab tidak hanya melakukan pendakian, namun juga menghasilkan luaran berupa hasil penelitian”. Dari hasil ekspedisi ini diharapkan akan diperoleh luaran berupa buku, film dokumenter ilmiah, serta publikasi ilmiah lainnya.

Wakil Dekan III FIS UNY Drs. Muhammad Nur Rohkhman, M.Pd, Pembina MPA Mahameru Arif Ashari, M.Sc, Pengurus, Summiter, dan Supporter berfoto bersama di Ruang Sidang Cut Nyak Dien, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta

LAUNCHING KEGIATAN TRIARGA JAWADWIPA SCIENTIFIC EXPEDITION MPA MAHAMERU FIS UNY (TAJSEM 2016)

Read More

Copyright © 2014 TAJSEM 2016 | Designed With By Blogger Templates | Distributed By Gooyaabi Templates
Scroll To Top