Selasa, 19 Juli 2016



Hari minggu 17 Juli 2016 tepat pukul 07.00 WIB Tim MPA Mahameru yang tergabung dalam Ekspedisi TAJSEM 2016 berhasil mengibarkan bendera di Puncak Gunung Ciremai Jawa Barat. Keberhasilan ini menandai terselesaikannya target kedua dari rangkaian pendakian triarga setelah sebelumnya tim berhasil mencapai Puncak Gunung Slamet Jawa Tengah pada tanggal 16 Mei 2016 (baca di sini). Keberhasilan ini kian terasa istimewa karena diraih sepuluh hari pasca perayaan ulang tahun MPA Mahameru ke 11. Ke depan tim akan menyelesaikan target terakhir di Puncak Semeru, Jawa Timur.
Empat orang summiter berhasil menyelesaikan misi di Gunung Ciremai, mereka adalah Maulana Azkaa, Aprilia Purwaningsih, Latifah Diah, dan Dheni Rizqiyanto, dengan dukungan penuh dari dua orang anggota suporting team lapangan yaitu Dimas Aditya dan Anwar Suyudi. Ekspedisi di Gunung Ciremai ini semakin semarak dengan bergabungnya beberapa anggota senior MPA Mahameru untuk memberikan dukungan langsung di lapangan. Mereka datang dari Yogyakarta, Banjar Jawa Barat, Batang Jawa Tengah, Lombok Timur NTB, dan OKU Timur Sumatera Selatan. Sebagian anggota senior juga membawa serta sispala yang menjalin kerjasama dengan MPA Mahameru.
Upaya untuk meraih Puncak Ciremai diawali dari pemberangkatan gelombang pertama tim ekspedisi dari Yogyakarta pada tanggal 14 Juli 2016 yang bertugas untuk mengurus perijinan penelitian di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Gelombang kedua menyusul satu hari kemudian dengan mengangkut logistik pendakian. Selanjutnya seluruh anggota tim bersama-sama memulai pendakian pada tanggal 16 Juli 2016 pukul 09.30 WIB. Walaupun sempat terkendala oleh cuaca yang sering berubah, pada akhirnya tim berhasil summit tanggal 17 Juli 2016 pukul 07.00 WIB.

Selama kegiatan ekspedisi ini banyak sekali yang telah diperoleh tim dari lapangan antara lain data pengukuran geomorfologis dan meteorologis lereng tenggara Gunung Ciremai, kondisi flora-fauna, serta sosial budaya masyarakat setempat khususnya di Dusun Palutungan yang sekaligus sebagai base camp dari pendakian ini. “Hasil ekspedisi kedua TAJSEM kali ini benar-benar menemukan suatu pembuktian tentang peran perbedaan iklim terhadap pembentukan karakter suatu gunung, saat ini memang terlihat perbedaan antara karakter di Gunung Slamet di Jawa Tengah dan Gunung Ciremai di Provinsi Jawa Barat berdasarkan pengaruh iklim.Iklim tersebutlah yang ikut berperan aktif dalam proses geomorfologi gunung-gunung tersebut. Namun selain perbedaan iklim, faktor budaya asli daerah yang berbeda juga menjadi faktor utama di aspek sosial. Perbedaan lingkungan fisik atau karakter gunung akan mempengaruhi perilaku, kepercayaan, dan kearifan lokal masyarakatnya. Itulah yang selama ini dari tim TAJSEM percaya bahwa eksedisi ini bisa mewaikili tiga budaya dari beberapa suku di Pulau Jawa yaitu Jawa, Sunda, dan Tengger. Selain pada sektor ilmiah ekspedisi kedua ini begitu berkesan karena hadirnya para senior dan sispala-sispala mitra Mpa Mahameru yang tentunya bisa menguatkan inernal dan menambah kualitas hasil di lapangan”. Ucap Maulana Azkaa, ketua tim Summiter.

KIBARKAN BENDERA DI PUNCAK CIREMAI, TIM TAJSEM 2016 SELESAIKAN TARGET KEDUA DARI RANGKAIAN EKSPEDISI TRIARGA

Read More

Sabtu, 02 Juli 2016


Metode yang digunakan dalam scientific expedition ini adalah metode penelitian deskriptif-eksploratif dengan survei biogeomorfologi dan kearifan lokal masyarakat dalam pengelolaan lingkungan dan kebencanaan. Terkait dengan karakteristik obyeknya penelitian ini merupakan penelitian survei, terkait dengan populasinya penelitian ini merupakan penelitian sampling, dan terkait dengan analisisnya penelitian ini menggunakan analisis kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan geografi yaitu pendekatan kompleks wilayah.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wilayah Vulkan Ciremai, Vulkan Slamet, dan Vulkan Semeru, mencakup bentanglahan fisik dan elemen sosial masyarkat. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposif sampling. Untuk aspek fisik, pengambilan sampel dilakukan pada semua satuan bentuklahan vulkanik yang terdapat pada wilayah yang diteliti didukung sistematik sampling untuk mengamati vegetasi. Untuk aspek sosial masyarakat sampel dipilih pada key person yaitu tokoh masyarakat dan anggota masyarakat lansia. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel biogeomorfologi dan variabel kearifan lokal masyarakat. Variabel biogeomorfologi dibagi menjadi varibel geomorfologi dan biogeografi yang selengkapnya ditunjukkan oleh bagan berikut:

Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi lapangan, interpretasi citra penginderaan jauh, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Observasi lapangan dilakukan untuk memperoleh data primer mengenai kondisi geomorfologis dan biogeografis daerah penelitian. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, yallon, klinometer, GPS, hygrometer, anemometer, altimeter, dan termometer. Wawancara dilakukan untuk memperoleh data kearifan lokal masyarakat dengan menggunakan instrumen pedoman wawancara, recorder, dan kamera digital. Studi pustaka dilakukan untuk memperoleh data sekunder dari buku teks dan penelitian terdahulu untuk mendukung data primer yang diperoleh dari lapangan. Sementara dokumentasi dilakukan untuk mendapatkan data dari berbagai sumber yang relevan dengan penelitian seperti Peta Rupabumi Indonesia, Peta Geologi, data hujan, dan sebagainya. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Untuk mengentahui kondisi biogeomorfologi digunakan analisis deskriptif dengan mengkorelasikan kondisi geomorfologi dengan biogeografi. Tabel berikut merangkum desain penelitian yang akan dilakukan:


Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu tahap pra lapangan, tahap lapangan, dan tahap pasca lapangan. Pada tahap pra lapangan dilakukan penentuan lokasi sampling, penelusuran pustaka, pembuatan instrumen, penyiapan alat dan bahan penelitian. Pada tahap lapangan dilakukan pengukuran lapangan dan wawancara. Pada tahap pasca lapangan dilakukan kegiatan merapikan data, analisis data, menyusun laporan penelitian, dan menyusun luaran utama yang diharapkan dari penelitian ini yaitu buku teks mengenai biogeomorfologi Vulkan Ciremai, Slamet, dan Semeru.



THE METHODS - TAJSEM 2016

Read More




Sementara itu di Indonesia digagas sirkuit seven summits Indonesia. Hendri Agustin dalam bukunya[1] mengungkapkan bahwa ide seven summits Indonesia memang terinspirasi dari seven summits yang telah diselesaikan oleh Patrick Morrow. Ia melihat bahwa semenjak adanya konsep prestasi mendaki tujuh puncak dunia, popularitas ketujuh puncak dunia tersebut terus meningkat dan banyak pendaki dari berbagai belahan dunia yang tertantang untuk ambil bagian dari pendakian ke tujuh puncak itu. Dengan dasar tersebut ia melihat ada peluang untuk membuat gunung-gunung Indonesia lebih populer dan juga agar kegiatan pendakian gunung di Indonesia semakin bergairah.
Hendri Agustin melanjutkan, awalnya terpikir untuk membuat list tantangan mendaki gunung di atas 3000 mdpal namun jumlahnya terlalu banyak. Kemudian muncul ide membuat list tujuh puncak tertinggi di Indonesia, namun semuanya berada di wilayah pegunungan Papua yang tentu saja belum dapat merepresentasikan Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan budaya. Dengan demikian ketujuh puncak tertinggi itu harus tersebar di Kepulauan Indonesia. Angka tujuh sendiri memang diadopsi dari tujuh puncak dunia (seven summits). Pada akhirnya diperoleh tujuh puncak di Indonesia yang mewakili pulau besar dan kepulauan yang utama yaitu Pulau Sumatra (Gunung Kerinci, 3805 mdpal), Pulau Jawa (Gunung Semeru 3676 mdpal), Pulau Kalimantan (Gunung Bukit Raya, 2278 mdpal), Pulau Sulawesi (Gunung Rante Mario 3430 mdpal), Pulau Papua (Carstensz Pyramid 4884 mdpal), Kepulauan Maluku (Gunung Binaiya 3027 mdal), dan Kepulauan Sunda Kecil (Rinjani 3726 mdpal). Situs www.the7summitsindonesia.com mencatat hingga saat ini seven summits of Indonesia telah diselesaikan oleh 3 orang pendaki.
Mengenai Seven Summits Indonesia, Patrick Morrow turut memberikan komentarnya. “The seven summits yang pertama (dunia) adalah cara yang bagus untuk melihat dunia, dan yang terakhir (Indonesia) adalah cara yang bagus untuk melihat Indonesia. Untuk itu, banyak orang Indonesia, bukan hanya orang asing yang kaya, dapat mengalihkan perhatian untuk menjelajahi halaman belakang mereka yang luar biasa Indahnya dari perspektif yang ditinggikan untuk puncak yang indah, di daerah yang indah. Saya merasa bahwa semua orang yang melakukan proyek Seven Summits Indonesia akan keluar di ujung lainnya dengan apresiasi baru akan negara mereka sendiri, dan planet biru kecil kita. Itu adalah harapan terbesar saya bahwa anda akan termotivasi untuk mengambil langkah-langkah kecil mendaki gunung ke arah membantu pelestarian lingkungan alam”.
Terinspirasi dari sirkuit grand slam yang telah ada baik pada level internasional maupun nasional, MPA Mahameru mengembangkan konsep sirkuit grand slam sendiri yaitu tiga puncak tertinggi di tiga wilayah Pulau Jawa yang disebut sebagai Triarga Jawadwipa. Ketiga puncak tersebut adalah Semeru 3676 mdpal (Jawa Bagian Timur), Slamet 3428 mdpal (Jawa Bagian Tengah), Ciremai 3078 mdpal (Jawa Bagian Barat). Kami sudah belajar bahwa paket yang diajukan, mengenai lingkup wilayahnya dan berapa jumlah targetnya, tentu didukung dengan dasar yang kuat. Lalu mengapa harus tiga puncak Jawa? Apa dasarnya? Apa yang bisa dipelajari?
Seperti yang dikatakan oleh Patrick Morrow, Seven Summits adalah cara melihat dunia, Seven Summits Indonesia adalah cara melihat Indonesia. Triarga Jawadwipa adalah cara untuk melihat lebih dekat Pulau Jawa, salah satu bagian dari Indonesia. Jawa adalah pulau dengan banyak sekali gunung. Verstappen[2] mencatat ada 23 vulkan tipe A, ada pula 10 vulkan yang ketinggiannya diatas 3000 mdpal. Dengan banyaknya gunung yang ada di Jawa, tidak ada lagi alasan untuk meninggalkan Jawa dalam kegiatan ekspedisi pendakian gunung di Indonesia. Pulau Jawa adalah salah satu pulau besar di bagian barat Indonesia. Pannekoek (1949)[3] dalam bukunya Outline of The Geomorphology of Java menjelaskan, Pulau Jawa memiliki luas kurang lebih 127.000 km2, memanjang dari barat ke timur sepanjang 1.000 km. Pulau Jawa memiliki sifat fisiografi yang khas yang disebabkan oleh beberapa keadaan sebagai hasil kombinasi pengaruh iklim tropis dan tektonisme aktif. Pannekoek sendiri membagi Pulau Jawa menjadi tiga wilayah geomorfologi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dengan dasar pembagian Geomorfologi Jawa menurut Pannekoek inilah muncul gagasan untuk mengeksplorasi tiga puncak tertinggi yang mewakili masing-masing wilayah tersebut.
Jawa juga merupakan pulau yang terpengaruh oleh fenomena monsun (muson). Sebagai akibat dari pergerakan monsun barat yang basah yang terpengaruh oleh gaya coriolis, maka curah hujan di Pulau Jawa menjadi tidak sama besarnya antara bagian barat, bagian tengah, dan bagian timur. Curah hujan yang tidak merata selanjutnya berpengaruh terhadap karakteristik vegetasi gunung-gunung yang terdapat di masing-masing wilayah tersebut. Diferensiasi vegetasi ini juga memberikan penguatan mengapa perlu adanya eksplorasi gunung yang mewakili masing-masing wilayah.
Penduduk di Pulau Jawa berdasarkan hasil sensus tahun 2010 (di seluruh provinsi yang terdapat di Pulau Jawa termasuk pulau-pulau di sekitarnya) sebesar 136.610.590 jiwa atau 57,49% dari jumlah penduduk Indonesia. Bachri[4] dkk mengatakan bahwa 120 juta penduduk Pulau Jawa bertempat tinggal di wilayah 30 gunungapi. Banyaknya jumlah penduduk yang hidup berdekatan dengan gunung tentu menghasilkan sistem kehidupan masyarakat yang spesifik. Kembali ke masing-masing wilayah (bagian barat, tengah, dan timur), ternyata juga terdapat perbedaan suku bangsa, adat istiadat, bahasa, dan berbagai aspek budaya masyarakat lainnya. Kondisi ini sekali lagi memberikan penguatan dikembangkannya konsep Triarga Jawadwipa di kalangan MPA Mahameru.
Sebagai komunitas pecinta alam yang dilahirkan di kampus, MPA Mahameru memiliki tanggungjawab untuk menjalankan peran sebagai bagian dari masyarakat akademik (civitas academika). Kami telah belajar tentang geomorfologi indonesia, geografi regional indonesia, geografi budaya, sejarah, dan berbagai bidang kajian lainnya sehingga perlu adanya implementasi keilmuan melalui kegiatan ekspedisi pendakian gunung. Terakhir, Pulau Jawa memiliki banyak komunitas pecinta alam sehingga sudah sewajarnya untuk menjelajahi kampung halaman sendiri. Ada ungkapan di kalangan anggota MPA Mahameru bahwa “kita boleh mendaki sampai belahan bumi manapun, tapi tidak akan lengkap tanpa menjajal triarga jawadwipa, atap rumah kita sendiri”.



[1] Lihat: Hendri Agustin. 2015. The Seven Summits of Indonesia – Tujuh Puncak Tertinggi di Tujuh Pulau/Kepulauan Besar Indonesia. Yogyakarta: Penerbit ANDI
[2] Verstappen. 2013. Outline of The Geomorphology of Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
[3] Pannekoek, A.J. 1949. Outline of The Geomorphology of Java. Leiden: E. J. Brill.
[4] Bachri, S., Stotter, J., Monreal, M., Sartohadi, J., 2015. The Calamity of Eruptions, or an Eruption of Benefits? Mt. Bromo Human-Volcano System a Case Study of an Open-Risk Perception. Nat Hazard Earth Syst. Sci 15 (2015): 277-290.

TRIARGA JAWADWIPA, KONSEP PENDAKIAN GRAND SLAM ALA MPA MAHAMERU (Bagian Kedua)

Read More

Jumat, 01 Juli 2016


“Pergilah keluar, nikmati alam ini, dan gunung akan menjadi guru yang baik” – Junko Tabei

Kalimat diatas adalah petikan pernyataan dari Junko Tabei, wanita pertama yang mampu mendaki hingga atap dunia di Puncak Everest pada tahun 1975. Seakan memberikan tantangan kepada generasi sekarang: “pergilah mendaki gunung untuk belajar, sebagaimana yang dilakukan oleh para pelopor”. Telah sejak lama manusia mengenal gunung, menghormati dan memitoskannya, bahkan ingin belajar dari penjelajahan di gunung. Para pendaki senior yang telah mencapai puncak-puncak tertinggi dan tersulit pun umumnya juga menyatakan serupa, pendakian bukan untuk menaklukkan gunung, tetapi untuk belajar dan lebih menghargai banyak hal dalam kehidupan.
Dengan latar belakang dan tujuan yang beragam, toh pada akhirnya setiap pendaki yang mampu menyelesaikan misinya akan memperoleh kemasyhuran. Namanya dicatat dalam lembar sejarah dan dikenang hingga banyak generasi setelahnya. Kegiatan pendakian gunung semakin hari semakin diminati, menyebar ke seluruh dunia dan melahirkan banyak pendaki-pendaki profesional. Sementara itu masyarakat juga selalu menunggu cerita-cerita penjelajahan dari berbagai belahan dunia dengan kondisi lingkungan sama sekali berbeda dengan tempat hunian mereka. Suatu tempat di belahan dunia yang lain, yang jauh, yang aneh, yang begitu menyulitkan untuk didatangi.
Ketika pendakian gunung semakin berkembang, maka muncullah kemudian ide-ide untuk menciptakan model pendakian yang tidak biasa, lebih menantang, sekaligus membawa kita untuk mengunjungi dan mendaki gunung di berbagai tempat. Gunung-gunung itu disatukan dalam “paket” yang telah ditentukan klasifikasinya. Sehingga satu keberhasilan adalah awal dari perjalanan berikutnya dalam upaya menggenapi seluruh bagian dalam paket itu. Semacam grand slam kalau kejuaraan tenis, begitulah kira-kira. Mendaki di berbagai belahan dunia tentunya tidak hanya semata menjelajahi gunung di tempat lain, tetapi akan membawa kita untuk mengenal bangsa lain, mempelajari kebudayaan yang lain, serta memperluas wawasan dan memperkaya pengetahuan kita.
 
atas : Richard “Dick” Bass kebangsaan Amerika Serikat penggagas 'grand slam' (sumber : www.arcopodojournal.com)
dan bawah : 
Patrick Morrow kebangsaan  Kanada sumber (sumber : http://bungalobooks.com/)
Lalu bagaimana ide paket grand slam itu mula-mula muncul? Konon semuanya berawal dari Richard “Dick” Bass, seorang pengusaha di Amerika Serikat yang kaya raya dan hobi mendaki gunung. Setelah banyak pendakian dilewatinya, muncullah ide untuk membangun suatu konsep mendaki gunung di berbagai tempat di belahan dunia. Kita sekarang mengenalnya sebagai seven summits, pendakian ke puncak-puncak tertinggi di tujuh benua yaitu Everest 8850 mdpal (Asia), Aconcagua 6962 mdpal (Amerika Selatan), Denali 6194 mdpal (Amerika Utara), Kilimanjaro 5895 mdpal (Afrika), Elbrus 5642 mdpal (Eropa), Vinson Massif 4897 mdpal (Antartika), dan Carstensz Pyramid 4884 mdpal (Oceania) atau Kosciusko 2228 mdpal (Australia). Rudy Badil dan Sani Handoko[1] dalam tulisannya menyebutkan Dick Bass mendapat ide mendaki ketujuh puncak dunia setelah mendaki Gunung McKinley (Denali) di Alaska. Pikirannya terganggu sekali untuk mendaki dan mendaki lagi. Pada tahun 1981 Bass berkenalan dengan Frank Wells, salah seorang pemimpin di perusahaan internasional film besar Warner Brothers. Baas dan Wells kemudian menyusun rencana pendakian seven summits. Mereka bahkan sempat mengajak Reinhold Messner untuk bergabung dalam proyek itu, tetapi ternyata Messner sudah menyusun daftar seven summits versinya sendiri dengan memasukkan Carstensz Pyramid di Papua daripada Puncak Kosciusko di Australia seperti dalam daftar yang disusun Bass. Dalam versi Messner, Carstensz Pyramid dimasukkan dalam daftar karena letaknya masih berada pada lempeng Australasia.
Dick Bass pada akhirnya menjadi seven summiter pertama setelah menyelesaikan pendakian Everest pada tanggal 30 April 1985. Sementara itu untuk versi Messner, Seven Summits pertama kali diselesaikan oleh Patrick Morrow dari Kanada pada tanggal 5 Agustus 1986. Menurut situs 7summits.com, hingga Bulan Juni 2016 tercatat telah ada 409 pendaki yang menyelesaikan seven summits, jumlah yang diperoleh dari penggabungan Carstenz Pyramid dan Kosciusko sekaligus. Seven summits versi Messner dengan Puncak Carstensz Pyramid telah diselesaikan oleh 286 pendaki, sedangkan versi Puncak Kosciusko diselesaikan 259 pendaki. Sebanyak 145 pendaki menyelesaikan Puncak Carstensz Pyramid sekaligus Puncak Kosciusko. Dalam daftar summiteers juga tercatat terdapat 71 pendaki wanita, dan 8 pendaki yang menyelesaikan seven summits tanpa bantuan tabung oksigen. Pencapaian luar biasa yang dimotori oleh sang dewa gunung, Reinhold Messner.
Reinhold Messner (sumber : www.micheldestot.fr/)
Sirkuit pendakian grand slam tidak hanya seven summits. Dalam dunia pendakian gunung juga dikenal seri 14 Eight Thousanders yaitu 14 puncak dunia yang ketinggiannya diatas 8000 mdpal. Semua puncak terletak di Pegunungan Himalaya (dan Karakoram) sehingga sering disebut sebagai The Crowns of Himalayas. 14 Puncak itu adalah Everest (8850 mdpal), K2 (8611 mdpal), Kangchenjunga (8586 mdpal), Lhotse (8516 mdpal), Makalu (8485 mdpal), Cho Oyu (8201 mdal), Dhaulagiri I (8167 mdpal), Manaslu (8163 mdpal), Nanga Parbat (8126 mdpal), Annapurna I (8091 mdpal), Gasherbrum I (8080 mdpal), Broad Peak (8051 mdpal), Gasherbrum II (8035 mdpal), dan Shishapangma (8027 mdpal).
Jika seven summits identik dengan “persaingan” antara Dick Bass dengan Patrick Morrow untuk menjadi yang pertama kali menyelesaikan paket itu, maka 14 Eight Thousanders lakonnya adalah Reinhold Messner dengan Jerzy Kukuczka. Dalam situs wikipedia disebutkan, pada akhirnya Messner (yang memang memulai lebih awal) menjadi yang pertama menyelesaikan seluruh dari 14 Eight Thousanders antara 1970-1986, kemudian Kukuczka (1979-1987). Prestasi Messner di 14 Eight Thousanders adalah pendakian tanpa bantuan tabung oksigen, termasuk beberapa pendakian solo. 14 Eight Thousanders adalah gunung-gunung berbahaya. Majalah National Geographic pernah memuat profil petualangan Reinhold Messner dimana dalam pendakiannya di Nanga Parbat, yang merupakan awal penjelajahannya di Eight Thousanders, ia kehilangan adik laki-lakinya Gunther Messner dan 7 jari kakinya diamputasi karena frostbite. Sejarah ekspedisi ke Eight Thousanders sebenarnya telah dimulai jauh sejak sebelum Messner datang, yaitu ketika Gunther Oskar Dyhrenfurth kembali dari kespedisinya di Jongsang Peak pada tahun 1930. Situs www.8000ers.com, mencatat ada 34 pendaki yang menyelesaikan Eight Thousanders termasuk Messner dan Kukucka.


[1] Lihat: Rudy Badil dan Sani Handoko (ed), 2011. Pucuk Es di Ujung Dunia: Pendakian Puncak 7 Benua. Jakarta: KPG.

TRIARGA JAWADWIPA, KONSEP PENDAKIAN GRAND SLAM ALA MPA MAHAMERU (Bagian Pertama)

Read More

Rabu, 29 Juni 2016


Lima orang summiter bersama dua orang dari supporting team yang tergabung dalam tim ekspedisi TAJSEM 2016 telah berhasil menyelesaikan target pertama eksplorasi di Gunung Slamet, Jawa Tengah, pada tanggal 13-17 Mei 2016. Para summiter yang terdiri dari Maulana Azkaa, Dheni Rizqiyanto, Latifah Diah, Aprilia Purwaningsih, dan Muhammad Hagi bersama supporting team lapangan Dimas Aditya dan Irwanti berhasil mencapai Puncak Gunung Slamet (3428 mdpal) pada hari senin, 16 Mei 2016, tepat pukul 07.30 WIB.
Pendakian ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian kegiatan eksplorasi bentanglahan pada tiga gunung di Pulau Jawa yaitu Gunung Ciremai sebagai gunung tertinggi di wilayah geomorfologi Jawa bagian barat, Gunung Slamet sebagai gunung tertinggi Jawa bagian tengah, dan Gunung Semeru sebagai gunung tertinggi Jawa bagian timur. Target kegiatan ini telah tercapai dengan baik sesuai dengan rencana yang dipresentasikan pada Launching TAJSEM 2016.
Kegiatan ekspedisi yang berlangsung selama empat hari telah dimulai sejak hari Jumat, 13 Mei 2016. Begitu tiba di base camp Bambangan, Purbalingga, tim ekspedisi mulai aktif melakukan observasi sosial budaya masyarakat sekitar. Selanjutnya pada tanggal 14 Mei tim mulai melakukan pendakian untuk mendapatkan data fisik yang berupa kondisi geomorfologis dan biogeografis dan diakhiri dengan mencapai puncak pada hari ketiga pendakian. “Alhamdulillah, ekspedisi ini dapat berjalan dengan lancar dan mendapatkan hasil sesuai target. Berbagai data penting juga diperoleh khususnya berkaitan dengan kondisi sosial budaya. Tim juga mendapat informasi mengenai toponimi nama-nama pos di Gunung Slamet, yang sebenarnya berkaitan dengan kondisi biogeografis di gunung itu. Mudah-mudahan kami dapat segera berbagi informasi ini dengan publik setelah selesainya ekspedisi ini. Satu lagi, penerimaan masyarakat yang sangat ramah dan senang dengan kegiatan kami, menjadi hal yang tak terlupakan dari masyarakat kaki Gunung Slamet”, kata Maulana Azkaa yang bertindak sebagai kapten tim.

Selasa 17 Mei 2016 tim ekspedisi tiba di Yogyakarta dengan selamat dan sukses membawa data-data observasi lapangan Gunung Slamet, yang akan dibawa dalam forum Supporting Team pada Aspek Scientific. Pencapaian ini sekaligus juga dipersembahkan kepada almamater Universitas Negeri Yogyakarta yang merayakan dies natalis pada bulan Mei ini. “Kebetulan fakultas kita kan menjadi host dalam rangkaian acara dies natalis UNY, jadi kita berinisiatif menjadikan kegiatan scientific expedition ini sebagai persembahan kepada almamater, juga untuk memenuhi panggilan jiwa sukma tri dharma seperti yang biasa dinyanyikan dalam bait lagu hymne MPA Mahameru”, kata Azkaa kembali menjelaskan. Target pertama yang telah dicapai dengan baik memberikan motivasi tambahan kepada tim dalam mempersiapkan pencapaian target kedua di Gunung Ciremai, Jawa Barat yang direncanakan akan dilaksanakan pada Bulan Juli 2016.

TIM TAJSEM SELESAIKAN TARGET PERTAMA DI GUNUNG SLAMET JAWA TENGAH

Read More


Selamat datang kami ucapkan kepada WIGUAM yang telah menyatakan sebagai mitra kami dalam TAJSEM 2016, dukungan berupa jaket seragam yang berkualitas akan menunjang kegiatan tim kami di alam bebas.

WELCOME AS OUR NEW SPONSOR, WIGUAM !

Read More


Selamat datang kami ucapkan kepada mitra sponsor baru kami untuk TAJSEM 2016 yaitu WARUNG SPESIAL SAMBAL (SS) dan UNIT GAWEAN DIGITAL (UGD) dengan supportnya baik secara finansial maupun dukungan lainnya yang bertujuan untuk memperlancar kegiatan kami.

WELCOME OUR NEW SPONSOR, SS dan UGD !

Read More

Copyright © 2014 TAJSEM 2016 | Designed With By Blogger Templates | Distributed By Gooyaabi Templates
Scroll To Top