Minggu, 07 Agustus 2016




Dalam ekspedisi Tajsem 2016, seorang summiter mendapatkan dua tugas sekaligus yaitu misi melakukan pendakian hingga mencapai puncak triarga dan misi melakukan penelitian yang meliputi aspek abiotik, biotik, dan cultural. Dari pengamatan aspek abiotik yang kami lakukan di Gunung Ciremai kami mendapatkan data yang cukup menarik seputar edelweiss di bawah Puncak Ciremai, tepatnya di Pos Goa Walet yang merupakan pos terakhir sebelum puncak dari rute pendakian melalui Jalur Palutungan maupun Jalur Apuy. Informasi mengenai edelweis selalu menarik. Mengapa demikian? Karena edelweis merupakan salah satu ikon dari pendakian gunung tinggi, dimana seorang pendaki yang telah berjuang keras mendaki ke atas biasanya akan mendapatkan “bonus” pemandangan padang edelweis yang indah.





"Catatan tambahan, keindahan edelweis tidak dijumpai di bawah tegakan hutan ketika seorang pendaki masih berada di awal perjalanan".

Edelweiss merupakan tanaman perintis yang banyak dijumpai pada kerucut gunungapi. Vegetasi ini dapat hidup pada endapan lava, piroklastik, abu, lahar, dan laut pasir, di sekitar wilayah puncak. Menurut Van Steenis (2010) dalam bukunya “Flora Pegunungan Jawa”, terdapat beberapa jenis anaphalis antara lain Anaphalis javanica, Anaphalis viscida, Anaphalis longifolia, dan Anaphalis maxima. Anaphalis javanica merupakan tumbuhan pionir berumur panjang pada endapan abu vulkanik, tanah kawah. Ciri-cirinya adalah perdu berbulu putih, bercabang lebat, sering bengkok-bengkok, tinggi hingga empat meter, batang sebesar pergelangan tangan, ranting-ranting berdaun kering putih kelabu, pada ujung atasnya terdapat daun yang mengumpul dan bonggol-bonggol bunga putih melimpah. Seringkali tumbuh mengelompok pada lahan tidak subur, lereng berpasir atau berbatu, terutama di kawah, dan tidak terlalu membutuhkan tanah.

Anaphalis viscida mirip dengan Anaphalis javanica, tetapi daunnya hijau tanpa lapisan putih, lengket karena berbulu kelenjar, dan bonggol bunga lebih besar. Anaphalis longifolia, tegak bercabang kadang-kadang pangkalnya agak berkayu, tinggi hingga 1,5 meter. Batang dan permukaan bawah daun putih, jarang kekuningan, bunga atas hijau bila masih segar. Anaphalis maxima dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 3 meter, lebat, bercabang banyak, berkayu di pangkalnya berbulu keputih-putihan tetapi hijaunya daun terlihat. Jenis ini hanya dijumpai di beberapa gunung.
Mengacu pada keterangan Van Steenis, kami menjumpai Anaphalis javanica dan Anaphalis viscida di sekitar Pos Gua Walet. Sekilas memang agak sulit dibedakan karena kedua jenis edelweiss ini sangat mirip, hanya dibedakan oleh keberadaan lapisan putih yang menyelimuti daun. 

Gua Walet sendiri di beberapa sumber disebutkan sebagai bekas titik erupsi. Wilayah Gua Walet memiliki ketinggian sekitar 2900 mdpal, berjarak sekitar 30 menit perjalanan mendaki dari Puncak Ciremai. Dengan material penyusun berupa bebatuan hasil erupsi dengan sangat sedikit tanah, ditambah dengan pengaruh kadar keasaman kawah, praktis hanya jenis vegetasi perintis yang dapat pertahan hidup di wilayah ini. 

Jenis Anaphalis cukup banyak dijumpai selain cantigi (Vaccinium varingiaefolium). Umumnya edelweiss tumbuh bergerombol, beberapa diantaranya tumbuh tinggi hingga mencapai lebih dari 2 meter dan berbatang keras sebesar pergelangan tangan.

Bunga-bunga edelweiss yang telah mekar sempurna berwarna putih kekuningan berpadu dengan bunga cantigi dan daunnya yang berwarna kemerahan. Sesekali kabut datang kemudian tersingkap kembali menghadirkan panorama langit biru di pagi hari, ditambah dengan pemandangan hutan hujan tropis dan kawasan perkotaan di area bawah menambah suasana yang indah, nyaman, dan tenang di Gua Walet. Bagaimana, anda tertarik mengunjunginya?

ANAPHALIS JAVANICA DAN ANAPHALIS VISCIDA, PENJAGA KEHENINGAN GOA WALET CIREMAI

Read More

Selasa, 02 Agustus 2016




Pengibaran bendera TAJSEM 2016 oleh empat orang summiter di Puncak Gunung Ciremai pada pagi hari tanggal 17 Juli 2016 menjadi tanda tercapainya target kedua dari rangkaian puncak dalam ekspedisi triarga. Tidak terasa ekspedisi ini telah melewati separuh perjalanan.


Telah banyak informasi yang berhasil dihimpun dalam konteks scientific expedition, dalam hal ini mengenai Gunung Slamet dan Gunung Ciremai, baik kondisi fisik bentanglahannya maupun sosial budaya masyarakatnya.
Dalam perjalanan mendaki menuju puncak di Gunung Slamet dan Ciremai, tim melewati berbagai bentuklahan mulai dari dataran kaki vulkan, kaki vulkan, lereng vulkan, kerucut vulkan, dan kepundan. Kedua gunung bertetangga ini kebetulan memiliki morfologi yang relatif sama sebagai vulkan komposit dengan kerucut sempurna, serta bibir kawah sebagai puncak pendakiannya. Dengan karakteristik iklim yang juga relatif sama, kedua gunung ini memiliki kemiripan dalam hal distribusi vegetasinya yaitu didominasi oleh hutan hujan tropis yang lebat dengan batang pohon besar berlumut, kanopi tinggi, kerapatan vegetasi tinggi, hingga mencapai ketinggian 2500 mdpal. Hutan elfin berkembang setempat-setempat di atas elevasi itu, pada lereng yang semakin terjal tersusun dari endapan lava dan tefra jatuhan pada kerucut gunungapi tepat di bawah kepundan.
Hutan elfin, sebagaimana dijelaskan oleh Van Steenis (2010) adalah formasi hutan primer di atas elevasi 2000 mdpal. Struktunya dicirikan oleh sebuah kanopi rendah yang terdiri atas pohon-pohon yang tumbuh rapat dengan batang yang sering bengkok. Daun-daunnya kecil dan tebal, merupakan hutan campuran dengan tinggi 8-20 meter. Dalam kondisi tidak terganggu tipe hutan elfin akan menyelimuti pegunungan mulai dari 2000 mdpal hingga ke puncaknya jika vulkanisme atau kebakaran tidak mengganggunya. Pohon-pohon di hutan pegunungan tinggi selalu berlumut. Pertumbuhan lumut sebanyak ini jarang terjadi dalam hutan tinggi tetapi kebanyakan dijumpai dalam hutan elfin sehingga sering disebut juga hutan lumut. Secara fisiognomi kesannya menakutkan, dan kelangkaan bunyi-bunyian selain bunyi burung yang tidak terlalu sering terdengar menambah kesan seramnya.
Di Gunung Slamet dan Gunung Ciremai, hutan elfin dijumpai hingga bentuklahan kerucut vulkan yang berbatasan dengan lereng vulkan. Hutan elfin tidak berkembang dengan baik pada kepundan, bahkan di Gunung Slamet sebagian kerucut vulkan tidak bervegetasi karena pengaruh vulkanisme aktif. Salah satu wilayah hutan elfin di Gunung Slamet adalah pos Samyang Jampang dengan dominasi vegetasi cantigi, adapun di Gunung Ciremai hutan elfin pada kerucut vulkan berkembang di wilayah pos Sanghyang Ropoh di luar perbatasan hutan tinggi kawasan Pasanggrahan.

Hutan elfin pada bentuklahan kerucut vulkan di Gunung Slamet dan Ciremai tidak berkembang baik, seperti misalnya dibandingkan dengan Gunung Pangrango yang memiliki hutan elfin hingga puncak berketinggian 3000 mdpal. Hutan elfin hanya berkembang setempat-setempat. Hal ini tidak terlepas dari karakteristik Gunung Slamet dan Ciremai sebagai vulkan aktif. Aktivitas vulkanik yang masih terus berlangsung berpengaruh terhadap terhambatnya perkembangan hutan elfin.
Kemiringan lereng terjal juga menyebabkan tingkat erosi tinggi. banyaknya erosi mengurangi kandungan unsur hara dalam tanah. Akibatnya tanah menjadi miskin sehingga tidak dapat mendukung perkembangan hutan elfin dengan baik. Mengenai hal ini Van Steenis (2010) juga mengungkapkan dalam bukunya. Dibandingkan dengan Gunung Slamet, distribusi hutan elfin yang terdapat di Gunung Ciremai lebih luas hingga mencapai kepundan, walaupun hanya sebagai vegetasi berukuran kerdil. Hal ini disebabkan oleh aktivitas vulkanik di Gunung Slamet yang lebih intensif dan berlangsung hingga saat ini.

ELFIN KERUCUT VULKAN DI SAMYANG JAMPANG DAN SANGHYANG ROPOH

Read More

Sabtu, 30 Juli 2016

TOPONIMI POS PENDAKIAN GUNUNG SLAMET JALUR BAMBANGAN. SAMARANTU, BUKAN SEKEDAR SAMAR-HANTU
(catatan summiter dari lapangan)

 
Pemandangan dari Base Camp Dusun Bambangan menjelang matahari terbit

Kami sangat bersyukur bahwa pada tahun 2016 ini MPA Mahameru akhirnya benar-benar sukses merealisasikan program scientific expedition melalui TAJSEM 2016. Merupakan suatu kebanggaan dapat terlibat dalam project ini sebagai summiter. Banyak sekali pelajaran yang kami peroleh melalui scientific expedition. Kami dapat menggali banyak informasi mengenai kondisi fisik gunung yang kami datangi serta melakukan wawancara dengan masyarakat setempat untuk menghimpun informasi-informasi berharga seputar gunung dan pendakiannya. Walaupun disisi lain program ini membawa konsekuensi pada jadwal ekspedisi yang menjadi lebih panjang, namun secara umum cukup menyenangkan bagi kami untuk menggali banyak informasi bersamaan dengan kegiatan pendakian. Kami sadar, tidak semua orang memperoleh kesempatan yang sama dengan kami.
Pada saat melakukan pendakian Gunung Slamet pada tanggal 13-17 Mei 2016, kami melakukan wawancara dengan masyarakat dan memperoleh keterangan menarik tentang toponimi pos-pos pendakian di Gunung Slamet. Berikut adalah informasi yang ingin kami bagi dengan pembaca sekalian.


Sebagaimana telah kita ketahui, ekspedisi Triarga Jawadwipa adalah suatu rangkaian ekspedisi di tiga puncak Pulau Jawa yang mewakili tiga wilayah geomorfologi, yaitu Puncak Ciremai (3078 mdpl) sebagai puncak tertinggi Jawa Barat, Puncak Slamet (3428 mdpl) di Jawa Tengah, dan Puncak Semeru (3676 mdpl) di Jawa Timur. 
Baca Grand Design Ekspedisi TAJSEM 2016 :        Konsep,              Target,               Metode



Dalam ekspedisi ini para summiter dengan dukungan supporting team lapangan bertugas untuk melakukan survei aspek fisik berupa biogeomorfologi, serta menemukenali berbagai kearifan lokal pada masyarakat setempat khususnya dalam pengelolaan lingkungan. Selain itu karena daerah observasi merupakan daerah vulkan yang aktif maka aspek kebencanaan juga dimasukkan sebagai aspek yang harus diamati oleh summiter di lapangan. Bahkan hingga saat ini, tim summiter masih melaksanakan penelitian mengenai modal sosial dalam menghadapi bencana erupsi Gunung Slamet. Apabila penelitian tersebut telah selesai, artikel yang memuat hasil penelitian tersebut akan segera dipublikasikan.
Gunung Slamet merupakan target pertama dalam rangkaian ekspedisi triarga ini. Pendakian ke puncak Gunung Slamet dilakukan melalui Jalur Bambangan, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya, tim yang bertugas pada aspek cultural melakukan observasi dan wawancara di sekitar basecamp Dusun Bambangan sebelum dan sesudah pendakian. Dalam proses wawancara, tim berhasil memperoleh temuan menarik kaitannya dengan tema ekspedisi, yaitu tentang toponimi (asal-usul pemberian nama) pos-pos pendakian yang ada di Jalur Bambangan. Temuan-temuan tersebut didapatkan tim dari beberapa narasumber key person yang merupakan sesepuh desa dan salah seorang juru kunci Gunung Slamet.
Jalur Pendakian Bambangan memiliki 9 pos yang mempunyai nama-nama tersendiri seperti pada umumnya pos-pos pendakian lainnya. Secara berurutan pos-pos tersebut adalah Pos Pondok Gembirung, Pos Pondok Walang, Pos Pondok Cemara, Pos Samarantu, Pos Samyang Rangkah, Pos Samyang Jampang, Pos Samyang Kendit, dan Pos Plawangan.
Berdasarkan hasil wawancara tim dengan narasumber, diketahui bahwa nama-nama pos tersebut diambil dari nama tumbuhan yang mendominasi wilayah sekitar pos dan sepanjang jalur pendakian menuju pos tersebut. Pos pendakian terbawah adalah pos Gembirung dan Pos Walang. Daerah tersebut memiliki ketinggian wilayah sekitar 1935 mdpl dengan banyak pohon-pohon pendek dan padang rumput di kanan dan kiri jalur pendakian. Menurut bahasa lokal setempat, daerah dengan karakteristik vegetasi demikian merupakan gembirung dan walang, yang dapat diterjemahkan sebagai ilalang atau belalang dalam bahasa jawa. Selanjutnya adalah pos Pondok Cemara yang dikaitkan dengan jenis pohon cemara atau pinus.
Mendaki ke atas dari Pos Pondok Cemara selanjutnya pendaki akan tiba di Pos Samarantu. Berdasarkan hasil wawancara, asal mula nama samarantu berasal dari nama tumbuhan samarantu, yang menurut masyarakat lokal Dusun Bambangan adalah nama lain dari pohon dengan ciri bentuk pohonnya pendek dan memiliki batang kecil. Dalam observasi lapangan di sekitar Pos Samarantu, kami menjumpai pohon dengan ciri-ciri seperti yang disampaikan oleh narasumber, yaitu bentuk pohon rendah dan berbatang kecil hingga sedang seperti ditunjukkan pada gambar berikut ini.

Keluar dari wilayah hutan mendekati wilayah puncak, terdapat Pos Samyang Jampang. Nama Jampang menurut penjelasan ciri-cirinya diduga kuat merupakan nama lain dari Pohon Cantigi (Vaccinium varingiaefolium). Tanaman pionir ini (baca : tumbuhan pionir di kepundan gunung ciremai) dapat di temui di seluruh pulau Jawa pada ketinggian antara 1500-3300 mdpl (Backer & Bakhuizen van den Brink, 1965), memiliki daun yang tebal dan kecil-kecil, dengan warna hijau, merah dan ungu, serta batangnya merah kecokelatan. Buahnya berwarna hitam dan berbentuk bulat seperti beri. Pohonnya tumbuh berupa pohon kecil atau semak bercabang-cabang dengan satu batang. Bunganya seperti bunga anggrek berwarna meran dan ukuran bunga cantigi yang ada di pegunungan lebih besar dibandingkan bunga cantigi yang ada di pantai. Pada pos Samyang Jampang mulai banyak ditemukan vegetasi cantigi.
Diantara nama-nama pos yang terdapat pada Jalur Pendakian Bambangan, Pos Samarantu termasuk yang paling terkenal di kalangan pendaki. Hal ini tidak lepas dari banyaknya keterangan yang mengkaitkan nama samarantu dengan kata “Samar” dan “Antu/Hantu” atau “Samar-samar Berhantu”. Ada pula yang menyebut “hantu yang samar-samar”. Keterangan ini cukup populer di kalangan pendaki apalagi Gunung Slamet termasuk gunung yang banyak dikaitkan dengan berbagai cerita mistis. Keterangan ini sangat mungkin berkaitan dengan berkembangnya isu mistis, selain itu dapat pula anggapan mengenai samar-hantu yang diberikan para pendaki tersebut dikarenakan pada pos ini banyak pendaki mengalami hypothermia dan penyakit ketinggian (AMS), demikian menurut keterangan tim SAR yang bertugas di Pos Pendakian Bambangan.
Tim TAJSEM saat memperoleh keterangan dari anggota SAR Purbalingga yang bertugas di base camp bambangan
Berdasarkan pengamatan aspek fisik yang dilakukan oleh tim di lapangan, pohon-pohon pada pos samarantu memiliki kanopi yang mulai terbuka, tidak seperti pada  pos-pos sebelumnya yang memiliki kanopi tertutup dan rapat dengan pepohonan yang besar. Kemudian lokasi pos tersebut terletak pada posisi igir pegunungan, sehingga angin yang bertiup pada pos tersebut khususnya pada malam hari langsung mengenai tempat-tempat mendirikan tenda tanpa terhalang oleh kanopi dan pepohonan besar. Diduga inilah alasan mengapa pada pos tersebut sering terdapat pendaki yang mengalami kecelakaan dalam pendakian baik mengalami hypothermia, AMS, dan lainnya.
Informasi mengenai nama-nama vegetasi yang digunakan sebagai nama pos di Jalur Pendakian Bambangan ini cukup menarik, apalagi tim ekspedisi TAJSEM juga bertugas mengamati kondisi vegetasi. Dalam konsep yang telah kami pelajari persebaran jenis tumbuhan tertentu sangat ditentukan oleh iklim (suhu dan curah hujan) yang berkaitan dengan ketinggian suatu daerah, bahan induk tanah, serta tingkat perkembangan tanah. Berdasarkan konsep tersebut, perbedaan ketinggian akan mempengaruhi variasi vegetasi baik jenis maupun ukurannya dengan gejala semakin ke atas vegetasi yang dijumpai semakin kecil.




TOPONIMI POS PENDAKIAN GUNUNG SLAMET JALUR BAMBANGAN. SAMARANTU, BUKAN SEKEDAR SAMAR-HANTU (catatan summiter dari lapangan)

Read More

Jumat, 29 Juli 2016


Infografis : Tumbuhan Pionir di Kepundan Gunung Ciremai

Read More

Selasa, 26 Juli 2016



Dalam misi mencapai puncak ke dua dari rangkaian pendakian Triarga Jawadwipa di Gunung Ciremai, tim Ekspedisi Tajsem 2016 juga mendapatkan tugas untuk melakukan pengamatan mengenai kondisi biogeomorfologi di Gunung Ciremai. Pokok pengamatan biogeomorfologi adalah melihat bagaimana bentuklahan mempengaruhi perkembangan dan distribusi vegetasi dan juga sebaliknya vegetasi mempengaruhi bentuklahan, dalam hal ini khususnya pada bentanglahan vulkanik. Secara garis besar diperoleh hasil bahwa setiap bentuklahan (landform) di Gunung Ciremai dengan material penyusun yang bervariasi, kondisi iklim yang bervariasi oleh pengaruh ketinggian tempat, terkena pengaruh langsung atau tidak dari aktivitas vulkanik pada saat ini, ternyata memiliki karakteristik vegetasi yang berbeda pula. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pola distribusi vegetasi berkaitan dengan karakteristik bentuklahan tempat berkembangnya jenis vegetasi tersebut.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, terdapat kondisi biogeomorfologi yang unik di pada bentuklahan kepundan gunungapi (bibir kawah yang juga merupakan puncak dari pendakian Gunung Ciremai), yaitu terdapatnya beberapa jenis tumbuhan perintis antara lain cantigi gunung (Vaccinium varingiaefolium) dan edelweiss (Anaphalis javanica). Van Steenis (2010) dalam bukunya Flora Pegunungan Jawa, menjelaskan bahwa terdapat jenis tumbuhan tertentu yang dapat bertahan hidup dalam lingkungan vulkan aktif, dalam hal ini di sekitar kawah dan endapan lava di puncak vulkan. Pada sekitar kepundan yang memiliki keasaman tinggi, penciuman manusia sangat peka terhadap gas belerang hingga jarak 1 km, namun demikian kondisi ini masih cukup lemah untuk merusak vegetasi, sehingga vegetasi masih dapat hidup. Terdapat jenis tumbuhan pionir yang sangat kerdil dan tumbuh merunduk, khususnya pada lokasi-lokasi yang terlindung dari angin dan gas beracun.
Lebih lanjut menurut Van Steenis, di sekitar kepundan umumya dijumpai vegetasi Vaccinium varingiaefolium, Rhododendrom retusum, dan paku Selliguea feei, kadang-kadang disertai lumut. Apabila kawah tidak aktif lagi maka vegetasi pionir akan menyelinap masuk yang kemudian dapat berkembang menjadi hutan elfin cantigi, sementara itu pada kawah aktif semburan gas dapat memusnahkan vegetasi yang baru terbentuk. Vegetasi yang dijumpai adalah yang mampu bertoleransi dengan kondisi tersebut. Hanya beberapa spesies yang mampu bertahan dan semakin ke arah kawah vegetasi semakin sedikit, semakin kurus, dan semakin kecil.

kenampakan puncak Gunung Ciremai dan vegetasi-vegetasi pioner yang tumbuh
kenampakan kawah Gunung Ciremai

Vegetasi yang tumbuh di sekitar kawah Gunung Ciremai

TUMBUHAN PIONIR DI KEPUNDAN GUNUNG CIREMAI

Read More

Jumat, 22 Juli 2016


Jawa adalah pulau yang banyak memiliki gunung-gunung tinggi. Sebagian besar diantaranya adalah gunungapi (vulkan) yang aktif. Van Bemmelen (1949) dalam bukunya The Geology of Indonesia, dan Neumann Van Padang (1983) dalam History of the Volcanology in the Former Netherlands East Indies menjelaskan terdapat 35 gunungapi aktif di Pulau Jawa. Sementara itu Verstappen (2013) dalam bukunya Garis Besar Geomorfologi Indonesia menjelaskan lebih lanjut bahwa diantara vulkan-vulkan aktif Pulau Jawa, 23 diantaranya termasuk dalam tipe A. Gunungapi di Pulau Jawa beberapa diantaranya menjulang tinggi hingga mencapai 3.000-an meter diatas permukaan laut. Menurut catatan Verstappen, terdapat empat belas gunungapi di Indonesia yang mempunyai ketinggian lebih dari 3.000 mdpal, 10 diantaranya terdapat di Pulau Jawa, 4 lainnya adalah Gunung Kerinci dan Dempo (Sumatra), Gunung Agung (Bali), dan Gunung Rinjani (Lombok).
Pemandangan Gunung Ciremai dari base camp Palutungan, Kabupaten Kuningan
(Dok. MPA Mahameru, 2016)

Kedudukan Pulau Jawa yang berada pada zona subduksi antara lempeng Asia Tenggara dengan Lempeng Eurasia menyebabkan tingkat vulkanisme tinggi. Vulkanisme inilah yang menyebabkan Pulau Jawa memiliki relief kasar dengan gunung-gunung tinggi. Pannekoek (1949) menjelaskan bahwa dengan vulkanisme yang aktif ini, Pulau Jawa dapat mempertahankan reliefnya dari proses denudasi yang cepat dan kuat akibat pengaruh iklim tropis dengan temperatur udara dan curah hujan tinggi. Apabila kita membuat daftar 15 puncak tertinggi di Pulau Jawa, maka seluruhnya akan kita jumpai berada pada ketinggian di atas 2.600 mdpal, yaitu sebagai berikut:
1.      Gunung Semeru, Jawa Timur (3676 mdpal)
2.      Gunung Slamet, Jawa Tengah (3428 mdpal)
3.      Gunung Sumbing, Jawa Tengah (3371 mdpal)
4.      Gunung Arjuno-Welirang, Jawa Timur (Puncak Arjuno 3339 mdpal, Puncak Welirang 3156 mdpal)*
5.      Gunung Raung, Jawa Timur (3332 mdpal)
6.      Gunung Lawu, Jawa Tengah-Jawa Timur (3265 mdpal)
7.      Gunung Sindoro, Jawa Tengah (3153 mdpal)
8.      Gunung Merbabu, Jawa Tengah (3142 mdpal)
9.      Gunung Argopuro, Jawa Timur (3088 mdpal)
10.   Gunung Ciremai, Jawa Barat (3078 mdpal)
11.   Gunung Gede-Pangrango, Jawa Barat (Puncak Pangrango 3019 mdpal, Puncak Gede 2958 mdpal)*
12.   Gunung Merapi, Jawa Tengah-DIY (2911 mdpal)
13.   Gunung Cikuray, Jawa Barat (2818 mdpal)
14.   Gunung Papandayan, Jawa Barat (2665 mdpal)
15.   Gunung Kawi, Jawa Timur (2651 mdpal)
Catatan (*) dua gunung letaknya berhimpitan sehingga satuan morfologi kaki gunungapi dan dataran kaki gunungapi beserta tekuk lerengnya absen di beberapa bagian.


Dalam konsep Triarga Jawadwipa yang diajukan MPA Mahameru melalui ekspedisi TAJSEM 2016, dengan mengacu pada pembagian geomorfologi Pulau Jawa menurut Pannekoek (1949), terdapat tiga puncak tertinggi di tiga wilayah geomorfologi Pulau Jawa yaitu Puncak Semeru (3676 mdpal) sebagai puncak tertinggi di Jawa Bagian Timur, Puncak Slamet (3428 mdpal) sebagai puncak tertinggi di Jawa Bagian Tengah, dan Puncak Ciremai (3078 mdpal) sebagai puncak tertinggi di Jawa Bagian Barat. Dilihat dari kedudukannya, Gunung Slamet dan Gunung Ciremai secara kebetulan terletak berdekatan tanpa dipisahkan oleh gunung lain.
Sebagai gunung “bertetangga” yang letaknya berdekatan, kedua gunung ini memiliki beberapa kemiripan khususnya pada karakteristik fisik yang dipengaruhi oleh kondisi iklim. Kedua gunung ini berada di daerah dengan curah hujan relatif tinggi di Jawa Bagian Barat karena dipengaruhi oleh monsun yang bergerak dari barat akibat pengaruh gaya coriolis ketika memasuki Kepulauan Indonesia. 
Karakteristik hutan gunung Slamet (kiri) dan gunung Ciremai (kanan)
Doc. MPA Mahameru 2016
Dengan curah hujan tinggi kedua gunung ini memiliki vegetasi yang beragam. Pada zona sub pegunungan dengan ketinggian dibawah 2000 mdpal terdapat vegetasi hutan tertutup berbatang pohon tinggi dengan sedikit lumut. Pada zona pegunungan dengan ketinggian 2000-2500 terdapat jenis vegetasi hutan berbatang pohon tinggi dengan diameter batang semakin kecil dan lumut semakin banyak. Pada zona sub alpin diatas ketinggian 2500 mdpal terdapat vegetasi hutan rendah berlumut yang termasuk ke dalam kategori hutan elfin.
Curah hujan tinggi juga berpengaruh terhadap proses geomorfologi terutama pelapukan dan erosi. Pelapukan berlangsung dalam bentuk dekomposisi secara intensif dibawah pengaruh suhu udara dan curah hujan tinggi. Hasil pelapukan kemudian berkembang menjadi tanah yang di beberapa bagian mengalami erosi akibat aliran permukaan.
erosi pada gunung Slamet (kiri) dan pada gunung Ciremai (kanan)
Doc. MPA Mahameru 2016
Tipe erosi yang dijumpai bervariasi antara erosi lembar hingga erosi parit. Jenis vegetasi yang terdapat di dalam hutan juga berpengaruh terhadap perkembangan tanah, namun untuk memperoleh keterangan lebih lengkap perlu dengan kajian lebih mendalam. 
Sebagai vulkan aktif, kedua vulkan ini juga memiliki kesamaan dari segi bentuklahan. Secara umum bentuklahan yang dijumpai meliputi kepundan, kerucut gunungapi, lereng gunungapi, kaki gunungapi, dan dataran kaki gunungapi. Kepundan merupakan fasies sentral sebagai pusat aktivitas vulkan, di kedua gunung ditandai dengan kawah yang luas dan dalam.
Kawah gunung Ciremai (Doc. MPA Mahameru 2016)
Bagian atas merupakan fasies piroksimal terbentuk dari material lava, bagian tengah merupakan fasies medial terbentuk dari material piroklastik, sedangkan bagian bawah merupakan fasies distal yang terbentuk dari material lahar. Namun demikian walaupun memiliki banyak kesamaan, terdapat pula kekhasan pada kedua gunung ini yang selengkapnya akan dideskripsikan pada laporan perjalanan lapangan mendatang.






DUA GUNUNG BERTETANGGA: SLAMET DAN CIREMAI

Read More

Rabu, 20 Juli 2016





“Persahabatan sangat diperlukan dalam hidup, karena tanpa sahabat hidup terasa hambar, walaupun kita memiliki kekayaan dan kemasyhuran” -- Aristotle

Jika ada hal yang membuat pendakian puncak kedua Tim TAJSEM di Gunung Ciremai menjadi istimewa, maka tentu salah satunya adalah kebersamaan dengan tim PA Raksa Buana dan Sispala Prima dalam ekspedisi ini. Sejak awal pendakian kedua ini memang direncanakan untuk mendapatkan dukungan eksternal yang lebih banyak, khususnya dari organisasi pecinta alam yang selama ini telah banyak bekerjasama dengan MPA Mahameru. Harapannya tentu saja adalah memperkuat tali silaturahmi, membangun kerjasama yang berkelanjutan, serta promosi program TAJSEM 2016 dan sirkuit pendakian triarga (Ciremai, Slamet, Semeru) secara lebih luas.
Bak gayung bersambut, ternyata kawan-kawan yang dihubungi untuk pendakian bersama ini tidak kalah antusiasnya. PA Raksa Buana yang akhirnya berperan sebagai tuan rumah memberikan sambutan yang hangat semua komponen terlibat baik guru pembina, siswa, maupun alumni, dengan rombongan yang cukup besar. Sambutan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh kami para tamu, MPA Mahameru dan Sispala Prima dari OKU Timur, Provinsi  Sumatera Selatan. Namun keseruan dalam kebersamaan di Gunung Ciremai belumlah berakhir sampai disitu.
Pendakian Ciremai barulah dimulai namun ujian sudah harus dihadapi, medan landai dari base camp menuju pos 1 cukup jauh tanpa ada pos bayangan. Muncul rasa jemu di perjalanan yang lama-kelamaan membuat mental pendaki tertekan, dampaknya tentu saja stamina ikut terkuras. Pada akhirnya setelah melawan kejemuan rombongan sampai juga di pos 1, cigowong, tapi dalam kondisi lelah mental dan fisik. Dalam situasi ini seorang pendaki butuh suntikan semangat baru, sesuatu yang berbau kejutan menyenangkan misalnya.
Cigowong adalah kawasan hutan yang berada di kaki Gunungapi Ciremai yang difungsikan sebagai pos 1 Pendakian Ciremai. Tempatnya lapang dan relatif datar. Namun daya tarik utamanya sebenarnya adalah keberadaan mataair cukup besar yang bisa dimanfaatkan untuk refill botol para pendaki. Semua tentu sudah paham, selepas ini jalur pendakian akan semakin liar tanpa ada sumber air lagi. Jadi di sinilah dan di waktu inilah recovery tenaga dan moral pendaki harus dilakukan.


Setelah istirahat agak lama dan sholat berjamaah, entah siapa yang memulai tiba-tiba matras dibentangkan. Lalu di atas matras bungkusan nasi dan ketupat dihidangkan, ada lauk, ada sayur kering, ada pula garam untuk menambah cita rasa. Ternyata sang tuan rumah menyiapkan pesta kecil pembangkit semangat pendakian. Tentu saja bagi kami ini kejutan baik. Kebetulan perut sedang lapar, semangat juga sedang menurun, acara makan bersama mencairkan kembali suasana yang sempat beku oleh rasa jemu dalam perjalanan tadi.




Acara makan bersama di hutan cigowong dalam pendakian TAJSEM di Gunung Ciremai ini bukan hanya sekedar acara makan-makan, tapi lebih dari itu, ada nuansa kebersamaan, jalinan persahabatan yang tulus dan menyenangkan, dan semuanya membaur dari manapun asal kelompoknya. Acara menyenangkan yang membangkitkan kembali semangat pendakian, dan juga semangat kebersamaan dalam kegiatan lain di masa mendatang. Semoga...




JAMUAN MAKAN SIANG DI HUTAN CIGOWONG

Read More


Ada yang menarik dari pendakian puncak kedua triarga di Gunung Ciremai oleh tim TAJSEM 2016 MPA Mahameru tanggal 14-18 Juli kemarin, yaitu jumlah anggota tim ekspedisi yang membengkak hingga mencapai 25 orang. Banyaknya anggota membuat tim pendaki harus dibagi lagi dalam kelompok-kelompok kecil. Sebenarnya anggota tim TAJSEM relatif tidak berubah yaitu terdisi dari lima orang summiter dan dua orang supporting team lapangan. Anggota lainnya adalah senior MPA Mahameru yang turut memberikan dukungan langsung dengan mengikuti pendakian di lapangan beserta tim sispala dari sekolah yang selama ini menjalin kerjasama dengan MPA Mahameru. Semuanya (guyub rukun, click) turun ke lapangan bersama-sama untuk memberikan dukungan dan penghormatan bagi MPA Mahameru yang sedang melaksanakan ekspedisi TAJSEM 2016.
PA Raksa Buana dari SMA Negeri 1 Cimaragas Kabupaten Ciamis Jawa Barat memberangkatkan rombongan yang cukup besar dengan komposisi tim terdiri dari beberapa guru pembina, siswa, dan alumni. Dengan jarak domisili yang relatif dekat dari Gunung Ciremai, PA Raksa Buana dalam kegiatan ini berperan sebagai tuan rumah yang menjamu Tim TAJSEM 2016 dan peserta lainnya. PA Raksa Buana sudah sangat lama menjalin kerjasama dengan MPA Mahameru. Sejarah berdirinya juga tidak dapat dilepaskan dari MPA Mahameru karena salah satu perintisnya adalah ketua pertama MPA Mahameru. Beberapa bentuk kerjasama yang pernah dilakukan antara lain Diklatsar Anggota Baru, Pelatihan Mitigasi Bencana, serta Ekspedisi Priangan Timur pada Bulan November tahun 2012.
Selain PA Raksa Buana dalam kesempatan ini juga hadir Sispala Prima SMA Negeri 1 Belitang Kabuaten OKU Timur, Provinsi Sumatera Selatan yang memberangkatkan perwakilan siswa didampingi oleh guru pembina. Berdirinya Sispala Prima juga tidak terlepas dari MPA Mahameru karena dirintis oleh alumni yang mengabdi disana. Hingga saat ini Sispala Prima telah beberapa kali melaksanakan pendakian bersama dengan MPA Mahameru antara lain dua kali pendakian di Gunung Merbabu, Gunung Dempo, dan tentu saja di Gunung Ciremai ini. Selain itu MPA Mahameru juga pernah mendapat undangan untuk mendukung langsung pelaksanaan Diklatsar Anggota Baru di Sumatera Selatan.

Ibarat reuni keluarga besar, Ekspedisi TAJSEM di Gunung Ciremai ini kian semarak dengan banyaknya elemen yang bersatu padu dalam satu perjalanan menuju Puncak Ciremai. Melalui kegiatan bersama ini juga diharapkan akan dirintis kembali kerjasama yang berkelanjutan pada masa mendatang.











MPA MAHAMERU MENDAKI SATU DARI TIGA PUNCAK TRIARGA BERSAMA PA RAKSA BUANA DAN SISPALA PRIMA

Read More

Selasa, 19 Juli 2016



Hari minggu 17 Juli 2016 tepat pukul 07.00 WIB Tim MPA Mahameru yang tergabung dalam Ekspedisi TAJSEM 2016 berhasil mengibarkan bendera di Puncak Gunung Ciremai Jawa Barat. Keberhasilan ini menandai terselesaikannya target kedua dari rangkaian pendakian triarga setelah sebelumnya tim berhasil mencapai Puncak Gunung Slamet Jawa Tengah pada tanggal 16 Mei 2016 (baca di sini). Keberhasilan ini kian terasa istimewa karena diraih sepuluh hari pasca perayaan ulang tahun MPA Mahameru ke 11. Ke depan tim akan menyelesaikan target terakhir di Puncak Semeru, Jawa Timur.
Empat orang summiter berhasil menyelesaikan misi di Gunung Ciremai, mereka adalah Maulana Azkaa, Aprilia Purwaningsih, Latifah Diah, dan Dheni Rizqiyanto, dengan dukungan penuh dari dua orang anggota suporting team lapangan yaitu Dimas Aditya dan Anwar Suyudi. Ekspedisi di Gunung Ciremai ini semakin semarak dengan bergabungnya beberapa anggota senior MPA Mahameru untuk memberikan dukungan langsung di lapangan. Mereka datang dari Yogyakarta, Banjar Jawa Barat, Batang Jawa Tengah, Lombok Timur NTB, dan OKU Timur Sumatera Selatan. Sebagian anggota senior juga membawa serta sispala yang menjalin kerjasama dengan MPA Mahameru.
Upaya untuk meraih Puncak Ciremai diawali dari pemberangkatan gelombang pertama tim ekspedisi dari Yogyakarta pada tanggal 14 Juli 2016 yang bertugas untuk mengurus perijinan penelitian di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Gelombang kedua menyusul satu hari kemudian dengan mengangkut logistik pendakian. Selanjutnya seluruh anggota tim bersama-sama memulai pendakian pada tanggal 16 Juli 2016 pukul 09.30 WIB. Walaupun sempat terkendala oleh cuaca yang sering berubah, pada akhirnya tim berhasil summit tanggal 17 Juli 2016 pukul 07.00 WIB.

Selama kegiatan ekspedisi ini banyak sekali yang telah diperoleh tim dari lapangan antara lain data pengukuran geomorfologis dan meteorologis lereng tenggara Gunung Ciremai, kondisi flora-fauna, serta sosial budaya masyarakat setempat khususnya di Dusun Palutungan yang sekaligus sebagai base camp dari pendakian ini. “Hasil ekspedisi kedua TAJSEM kali ini benar-benar menemukan suatu pembuktian tentang peran perbedaan iklim terhadap pembentukan karakter suatu gunung, saat ini memang terlihat perbedaan antara karakter di Gunung Slamet di Jawa Tengah dan Gunung Ciremai di Provinsi Jawa Barat berdasarkan pengaruh iklim.Iklim tersebutlah yang ikut berperan aktif dalam proses geomorfologi gunung-gunung tersebut. Namun selain perbedaan iklim, faktor budaya asli daerah yang berbeda juga menjadi faktor utama di aspek sosial. Perbedaan lingkungan fisik atau karakter gunung akan mempengaruhi perilaku, kepercayaan, dan kearifan lokal masyarakatnya. Itulah yang selama ini dari tim TAJSEM percaya bahwa eksedisi ini bisa mewaikili tiga budaya dari beberapa suku di Pulau Jawa yaitu Jawa, Sunda, dan Tengger. Selain pada sektor ilmiah ekspedisi kedua ini begitu berkesan karena hadirnya para senior dan sispala-sispala mitra Mpa Mahameru yang tentunya bisa menguatkan inernal dan menambah kualitas hasil di lapangan”. Ucap Maulana Azkaa, ketua tim Summiter.

KIBARKAN BENDERA DI PUNCAK CIREMAI, TIM TAJSEM 2016 SELESAIKAN TARGET KEDUA DARI RANGKAIAN EKSPEDISI TRIARGA

Read More

Sabtu, 02 Juli 2016


Metode yang digunakan dalam scientific expedition ini adalah metode penelitian deskriptif-eksploratif dengan survei biogeomorfologi dan kearifan lokal masyarakat dalam pengelolaan lingkungan dan kebencanaan. Terkait dengan karakteristik obyeknya penelitian ini merupakan penelitian survei, terkait dengan populasinya penelitian ini merupakan penelitian sampling, dan terkait dengan analisisnya penelitian ini menggunakan analisis kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan geografi yaitu pendekatan kompleks wilayah.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wilayah Vulkan Ciremai, Vulkan Slamet, dan Vulkan Semeru, mencakup bentanglahan fisik dan elemen sosial masyarkat. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposif sampling. Untuk aspek fisik, pengambilan sampel dilakukan pada semua satuan bentuklahan vulkanik yang terdapat pada wilayah yang diteliti didukung sistematik sampling untuk mengamati vegetasi. Untuk aspek sosial masyarakat sampel dipilih pada key person yaitu tokoh masyarakat dan anggota masyarakat lansia. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel biogeomorfologi dan variabel kearifan lokal masyarakat. Variabel biogeomorfologi dibagi menjadi varibel geomorfologi dan biogeografi yang selengkapnya ditunjukkan oleh bagan berikut:

Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi lapangan, interpretasi citra penginderaan jauh, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Observasi lapangan dilakukan untuk memperoleh data primer mengenai kondisi geomorfologis dan biogeografis daerah penelitian. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, yallon, klinometer, GPS, hygrometer, anemometer, altimeter, dan termometer. Wawancara dilakukan untuk memperoleh data kearifan lokal masyarakat dengan menggunakan instrumen pedoman wawancara, recorder, dan kamera digital. Studi pustaka dilakukan untuk memperoleh data sekunder dari buku teks dan penelitian terdahulu untuk mendukung data primer yang diperoleh dari lapangan. Sementara dokumentasi dilakukan untuk mendapatkan data dari berbagai sumber yang relevan dengan penelitian seperti Peta Rupabumi Indonesia, Peta Geologi, data hujan, dan sebagainya. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Untuk mengentahui kondisi biogeomorfologi digunakan analisis deskriptif dengan mengkorelasikan kondisi geomorfologi dengan biogeografi. Tabel berikut merangkum desain penelitian yang akan dilakukan:


Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu tahap pra lapangan, tahap lapangan, dan tahap pasca lapangan. Pada tahap pra lapangan dilakukan penentuan lokasi sampling, penelusuran pustaka, pembuatan instrumen, penyiapan alat dan bahan penelitian. Pada tahap lapangan dilakukan pengukuran lapangan dan wawancara. Pada tahap pasca lapangan dilakukan kegiatan merapikan data, analisis data, menyusun laporan penelitian, dan menyusun luaran utama yang diharapkan dari penelitian ini yaitu buku teks mengenai biogeomorfologi Vulkan Ciremai, Slamet, dan Semeru.



THE METHODS - TAJSEM 2016

Read More




Sementara itu di Indonesia digagas sirkuit seven summits Indonesia. Hendri Agustin dalam bukunya[1] mengungkapkan bahwa ide seven summits Indonesia memang terinspirasi dari seven summits yang telah diselesaikan oleh Patrick Morrow. Ia melihat bahwa semenjak adanya konsep prestasi mendaki tujuh puncak dunia, popularitas ketujuh puncak dunia tersebut terus meningkat dan banyak pendaki dari berbagai belahan dunia yang tertantang untuk ambil bagian dari pendakian ke tujuh puncak itu. Dengan dasar tersebut ia melihat ada peluang untuk membuat gunung-gunung Indonesia lebih populer dan juga agar kegiatan pendakian gunung di Indonesia semakin bergairah.
Hendri Agustin melanjutkan, awalnya terpikir untuk membuat list tantangan mendaki gunung di atas 3000 mdpal namun jumlahnya terlalu banyak. Kemudian muncul ide membuat list tujuh puncak tertinggi di Indonesia, namun semuanya berada di wilayah pegunungan Papua yang tentu saja belum dapat merepresentasikan Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan budaya. Dengan demikian ketujuh puncak tertinggi itu harus tersebar di Kepulauan Indonesia. Angka tujuh sendiri memang diadopsi dari tujuh puncak dunia (seven summits). Pada akhirnya diperoleh tujuh puncak di Indonesia yang mewakili pulau besar dan kepulauan yang utama yaitu Pulau Sumatra (Gunung Kerinci, 3805 mdpal), Pulau Jawa (Gunung Semeru 3676 mdpal), Pulau Kalimantan (Gunung Bukit Raya, 2278 mdpal), Pulau Sulawesi (Gunung Rante Mario 3430 mdpal), Pulau Papua (Carstensz Pyramid 4884 mdpal), Kepulauan Maluku (Gunung Binaiya 3027 mdal), dan Kepulauan Sunda Kecil (Rinjani 3726 mdpal). Situs www.the7summitsindonesia.com mencatat hingga saat ini seven summits of Indonesia telah diselesaikan oleh 3 orang pendaki.
Mengenai Seven Summits Indonesia, Patrick Morrow turut memberikan komentarnya. “The seven summits yang pertama (dunia) adalah cara yang bagus untuk melihat dunia, dan yang terakhir (Indonesia) adalah cara yang bagus untuk melihat Indonesia. Untuk itu, banyak orang Indonesia, bukan hanya orang asing yang kaya, dapat mengalihkan perhatian untuk menjelajahi halaman belakang mereka yang luar biasa Indahnya dari perspektif yang ditinggikan untuk puncak yang indah, di daerah yang indah. Saya merasa bahwa semua orang yang melakukan proyek Seven Summits Indonesia akan keluar di ujung lainnya dengan apresiasi baru akan negara mereka sendiri, dan planet biru kecil kita. Itu adalah harapan terbesar saya bahwa anda akan termotivasi untuk mengambil langkah-langkah kecil mendaki gunung ke arah membantu pelestarian lingkungan alam”.
Terinspirasi dari sirkuit grand slam yang telah ada baik pada level internasional maupun nasional, MPA Mahameru mengembangkan konsep sirkuit grand slam sendiri yaitu tiga puncak tertinggi di tiga wilayah Pulau Jawa yang disebut sebagai Triarga Jawadwipa. Ketiga puncak tersebut adalah Semeru 3676 mdpal (Jawa Bagian Timur), Slamet 3428 mdpal (Jawa Bagian Tengah), Ciremai 3078 mdpal (Jawa Bagian Barat). Kami sudah belajar bahwa paket yang diajukan, mengenai lingkup wilayahnya dan berapa jumlah targetnya, tentu didukung dengan dasar yang kuat. Lalu mengapa harus tiga puncak Jawa? Apa dasarnya? Apa yang bisa dipelajari?
Seperti yang dikatakan oleh Patrick Morrow, Seven Summits adalah cara melihat dunia, Seven Summits Indonesia adalah cara melihat Indonesia. Triarga Jawadwipa adalah cara untuk melihat lebih dekat Pulau Jawa, salah satu bagian dari Indonesia. Jawa adalah pulau dengan banyak sekali gunung. Verstappen[2] mencatat ada 23 vulkan tipe A, ada pula 10 vulkan yang ketinggiannya diatas 3000 mdpal. Dengan banyaknya gunung yang ada di Jawa, tidak ada lagi alasan untuk meninggalkan Jawa dalam kegiatan ekspedisi pendakian gunung di Indonesia. Pulau Jawa adalah salah satu pulau besar di bagian barat Indonesia. Pannekoek (1949)[3] dalam bukunya Outline of The Geomorphology of Java menjelaskan, Pulau Jawa memiliki luas kurang lebih 127.000 km2, memanjang dari barat ke timur sepanjang 1.000 km. Pulau Jawa memiliki sifat fisiografi yang khas yang disebabkan oleh beberapa keadaan sebagai hasil kombinasi pengaruh iklim tropis dan tektonisme aktif. Pannekoek sendiri membagi Pulau Jawa menjadi tiga wilayah geomorfologi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dengan dasar pembagian Geomorfologi Jawa menurut Pannekoek inilah muncul gagasan untuk mengeksplorasi tiga puncak tertinggi yang mewakili masing-masing wilayah tersebut.
Jawa juga merupakan pulau yang terpengaruh oleh fenomena monsun (muson). Sebagai akibat dari pergerakan monsun barat yang basah yang terpengaruh oleh gaya coriolis, maka curah hujan di Pulau Jawa menjadi tidak sama besarnya antara bagian barat, bagian tengah, dan bagian timur. Curah hujan yang tidak merata selanjutnya berpengaruh terhadap karakteristik vegetasi gunung-gunung yang terdapat di masing-masing wilayah tersebut. Diferensiasi vegetasi ini juga memberikan penguatan mengapa perlu adanya eksplorasi gunung yang mewakili masing-masing wilayah.
Penduduk di Pulau Jawa berdasarkan hasil sensus tahun 2010 (di seluruh provinsi yang terdapat di Pulau Jawa termasuk pulau-pulau di sekitarnya) sebesar 136.610.590 jiwa atau 57,49% dari jumlah penduduk Indonesia. Bachri[4] dkk mengatakan bahwa 120 juta penduduk Pulau Jawa bertempat tinggal di wilayah 30 gunungapi. Banyaknya jumlah penduduk yang hidup berdekatan dengan gunung tentu menghasilkan sistem kehidupan masyarakat yang spesifik. Kembali ke masing-masing wilayah (bagian barat, tengah, dan timur), ternyata juga terdapat perbedaan suku bangsa, adat istiadat, bahasa, dan berbagai aspek budaya masyarakat lainnya. Kondisi ini sekali lagi memberikan penguatan dikembangkannya konsep Triarga Jawadwipa di kalangan MPA Mahameru.
Sebagai komunitas pecinta alam yang dilahirkan di kampus, MPA Mahameru memiliki tanggungjawab untuk menjalankan peran sebagai bagian dari masyarakat akademik (civitas academika). Kami telah belajar tentang geomorfologi indonesia, geografi regional indonesia, geografi budaya, sejarah, dan berbagai bidang kajian lainnya sehingga perlu adanya implementasi keilmuan melalui kegiatan ekspedisi pendakian gunung. Terakhir, Pulau Jawa memiliki banyak komunitas pecinta alam sehingga sudah sewajarnya untuk menjelajahi kampung halaman sendiri. Ada ungkapan di kalangan anggota MPA Mahameru bahwa “kita boleh mendaki sampai belahan bumi manapun, tapi tidak akan lengkap tanpa menjajal triarga jawadwipa, atap rumah kita sendiri”.



[1] Lihat: Hendri Agustin. 2015. The Seven Summits of Indonesia – Tujuh Puncak Tertinggi di Tujuh Pulau/Kepulauan Besar Indonesia. Yogyakarta: Penerbit ANDI
[2] Verstappen. 2013. Outline of The Geomorphology of Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
[3] Pannekoek, A.J. 1949. Outline of The Geomorphology of Java. Leiden: E. J. Brill.
[4] Bachri, S., Stotter, J., Monreal, M., Sartohadi, J., 2015. The Calamity of Eruptions, or an Eruption of Benefits? Mt. Bromo Human-Volcano System a Case Study of an Open-Risk Perception. Nat Hazard Earth Syst. Sci 15 (2015): 277-290.

TRIARGA JAWADWIPA, KONSEP PENDAKIAN GRAND SLAM ALA MPA MAHAMERU (Bagian Kedua)

Read More

Copyright © 2014 TAJSEM 2016 | Designed With By Blogger Templates | Distributed By Gooyaabi Templates
Scroll To Top